catatan Riset Dikili Bagi Anak Muda Hulundhalo
Ahad 24 Okrober 2021
Saya di temani sahabat Rodney melakukan perjalanan menuju kediaman Dr. H Alim S. Niode yang merupakan salah serorang tokoh Budayawan Gorontalo. Sebelum kami melakukan perjalanan ke kediaman beliau, saya sempat menghubungi ust. Alim melalui pesan whatsapp. Tepat pada pukul 07.48 saya menghubungi beliau, kurang lebih begini isi chat saya kepada beliau :
“Assalamu Alikum Wr. Wb Ustadz, mohon maaf sebelumnya ustadz sudah menggangu waktunya, saya Fajar salah satu panitia pesantren pergerakan yang di selenggarakan oleh anak-anak PMII kemarin ustadz, izin kalau bisa saya ingin datang bersilaturahmi Ustadz.”
Akan tetapi beliau tidak langsung menjawab pesan Whatsapp saya, saya hanya berpikir mungkin beliau sedang sibuk sehingganya beliau belum sempat membalas whatsapp saya. Tepat pada pukul 10.49 saya mendapat balasan dari beliau, beliau berkata :
“ Wa Alaikum Salam wr. Wb, Bismillah tapi sore, sebab sekarang saya lagi di luar rumah”
Sontak kembali saya membalas pesan beliau, sekaligus mempertanyakan sekitar jam berapa, akan tetapi beliau kembali tidak langsung membalasnya. Tepat pada pukul 13.17 saya menghubungi kembali untuk mengkomfirmasi bisa tidak saya berkunjung malam. Sebab sebelumnya saya sempat menghubungi sahabat Roodney agar kiranya bisa mengantar saya untuk bertemu dengan Ustadz Alim Niode. Akan tetapi, Ia berkata untuk sore hari ia belum bisa kemana-mana, kecuali malam hari ia bisa menemani saya, sebab ada urusan yang juga tidak kalah penting. Berikut isi chat saya dengan Dia :
Saya : " nanti tolong atar saya ke ust Alim boleh? "
Roodney : " Ana tidak Tahu depe rumah sup, coba minta saja nomornya sama kak Fadil baru torang sama-sama kesana "
Saya : " sudah Ada "
Roodney : " oh siap "
Saya : " ana So hubungi beliau "
Roodney : " Oh siap2, berarti sisa mo pigi, jam berapa? "
Saya : " belum di balas "
Roodney : " oh oke siap, nanti kabari saja jam berapa a "
Saya : " siap "
Tepat pada pukul 14.50 saya mendapat balasan Whatsapp dari sahabat Kanda Alim, dengan balasan :
“ sebelum 15.30 saya sudah keluar lagi, sekarang saya tunggu , berikut alamat saya,” (sembari mengirimkan lokasi)."
Seketika saya menghubungi Rodney kembali melalui Via Telepon Whatsapp untuk menanyakan apakah ia bisa atau tidak mengantar saya ke rumah sahabat kanda Alim. Alhamdulillah Sahabat Roodeny pun siap untuk mengantar sekaligus bersama-sama bertemu dengan Sahabat Kanda Alim Niode. Sisi lain saya juga tak lupa membalas chat dari sahabat kanda Alim Niode, bahwasa-nya kami sementara dalam perjalanan.
Sekitar 10 menit perjalanan, saya kembali mendapat pesan whatsapp dari Ustadz Alim Niode, beliau berkata :
“ buka saja pintu pagar saya, saya mau sholat Ashar Dulu, silahkan masuk saja ”
Dan saya pun membalas “ siap ustadz ”.
Tak selang berapa lama, kami berdua pun tiba di titik lokasi maps yang dikirimkan oleh ustadz Alim. Kami berdua berhenti di depan rumah batu yang memiliki pekarangan yang cukup luas. Karena masih awal kesana, sehingga kami berdua masih sempat bertanya ke salah seorang Basi ( tukang ) bangunan perihal rumah Ust. Alim. Akan tetapi, ia pun tidak tahu sebab, ia bukan asli orang kompleks di sana.
Sedangkan Rodney sembari mengendari kuda besinya pun , menyisir kompleks tersebut sembari mencari salah seorang warga yang bisa di tanyai perihal rumahnya Ust. Alim. Akan tetapi, hasilnya sama tak ada seorang pun yang di temuinya. Hingga pada akhirnya sapaan ramah yang suaranya tidak asing terdengar di telinga kami berdua.
“ Mari sini dek ( sapaan Ust. Alim sembari tersenyum menuju pagar yang akan di bukanya)
Itu Uts. Alim ( Rodney kembali menyambung Sapaan Ust. Alim).
Ust. ( sapa ku sembari tersenyum dan mencium tangan beliau ). “
Setelah saling berbalas sapa, kami berdua di ajak masuk menuju ruang tamunya beliau. Setiba-nya kami di ruang tamu, kami berbasa-basi sejenak. Tak selang beberapa lama, Ust. Alim mempertanyakan Maksud dari kedatangan kami berdua. Saya pun menjelaskan bahwasa-nya saya sementara belajar melakukan riset, yang merupakan tindak lanjut dari sekolah riset yang sempat saya ikuti di Makasar.
saya : " kebetulan saya sementara melakukan riset perihal anak muda, demokrasi dan budaya ust, yang dimana itu menjadi Output ataupun tindak lanjut dari sekolah riset yang sempat saya ikuti di Makassar, nah saya sendiri tertarik dengan salah satu tradisi orang Gorontalo Ust. "
Ust Alim : " apa itu ? "
Saya : " Dikili ust. "
Ust. Alim : " ada apa dengan dikili, sehingga kamu ingin melakukan riset tentang dikili ini ? "
Saya : " saya memandang bahwa ini adalah salah satu budaya warisan Gorontalo ust. Sehingganya ini wajib dan sangat perlu untuk di lestarikan, akan tetapi yang menjadi permasalahan saat ini adalah genereasi muda yang katanya tongkat estafet pelestari budaya itu tidak mau belajar akan budaya-budaya seperti ini, jangan kan mau belajar, rasa ingin tahunya saja ust. Itu tidak ada. Nah, berangkat dari masalah ini saya coba melakukan riset perihal anak muda terhadap Tradisi Dikili Ini , kira-kira apa yang menjadi sebab sehingga anak muda tidak ingin belajar perihal dikili. "
Sebelum beliau bercerita perihal dikili dan menjawab pertanyaan saya, beliau sempat bertanya sama saya dengan pertanyaan :
Ust. Alim : " kita bisa bahasa Gorontalo ? "
Saya : " belum bisa Ust. "
Ust. Alim : " Makassar tinggalnya dimana ? "
Saya : " saya aslinya Jeneponto Ust, cuman orang tua merantau ke Makassar lebih tepatnya di Sudiang. "
Ust. Alim : " oh sudiang? Bapak kerjanya Bisnis ya ? "
Saya : " serabutan pak. "
Ust. Alim : " baik, memang peminat kebudayaan ya ? saya Tanya memang supaya connect dan nyambung sebentar . "
Saya : " insya Allah Ust. Tapi secara naluri saya senang dengan budaya, cerita tentang budaya dan lain-lain Ust. "
Ust. Alim : " kalau di Makasar Budaya Apa saja yang ada? "
Saya : " ada banyak ust. Akan tetapi jikalu ingin di sinkronkan dengan Gorontalo ust, Dikili ini mirip dengan Barazanji. "
Ust Alim : " baik Kita bicara tentang dikili ya ? "
Saya : " iyye ust. "
Dan mulai lah Ust. Alim bercerita perihal Dikili. Mulai dari sejarah nya orang berdikili, kenapa di katakan dikili, dan masih banyak lagi. Menurut Ust. Alim Niode :
“ Dikili itu sebetulnya dari kata “Dzikir”, akan tetapi lidah orang Gorontalo itu susah melafal kan huruf “R dan S” apa lagi orang-orang tua. Sehingga kadang kala “R di ganti L” begitupun dengan “S yang di ganti T”. Jadi pada dasarnya Dikili itu adalah Dzikir. Dikili sendiri memikili ke-khas-an yang menarik, ( kenapa harus teriak-teriak)?, apa yang di baca di saat berdikili ?, yang menarik , apakah masih perlu berdzikir seperti itu ? “
“ kenapa berdikili harus berterik-teriak ?, sebelumnya kita harus tahu bersama bahwasa-nya, Dikili ini merupakan Salah satu Kebudayaan yang di tinggalkan pada zaman Islam Pertama Masuk, di mana pada masih itu masih zaman Sultan Amai. Pada saat itu ada 185 untaian Adat istiadat, baik dalam bentuk upacara massal ( Kolosal), kelompok Atau Individual, termasuk Modikili,Momeraji (membacakan isra’ Mi’raj ), Mo Khatam Qur'an dan lain sebagai-nya yang cara pelaksanaa-nya sama dengan cara berteriak. Jikalau kita perhatikan, nada-nada-nya sama. “
“ ketika Sultan Amai Masuk di Gorontalo, Sultan Amai tidak menghilangkan apa yang ada, akan tetapi ia mencoba apa yang ada itu dan cocok dengan Islam maka di islam kan, dan yang tidak cocok untuk di islamkan itu tidak boleh dan tidak lagi di akui sebagai budaya ataupun adat Gorontalo. Akan tetapi, Modikili di sini ternyata menurut para penutur-penutur sebelum-nya yang seperti itu ada tapi yang di ucapkan itu tidak berhubungan dengan islam,
“Nah pertanyaan adalah kenapa Dikili harus di laksanakan dengan berteriak-teriak, itu di sebab kan karena awalnya Gorontalo merupakan Lautan, nanti di tahun 1300 atau menjelang 1400-san laut perlahan surut. Hingga pada akhirnya terbentuklah Limboto dan menyusul daerah-daerah yang lain hingga pada akhirnya terbentuk Gorontalo.
Pada kala itu, penduduk yang hidup pada masa itu tinggalnya di lereng-lereng gunung, dan letaknya agak berjauhan dari satu tempat dengan tempat yang lain. Nah, itulah salah satu factor yang kemudian membuat proses pelaksanaan kegiatan Dikili harus teriak-teriak. Dalam artian kurtul masyarakat Gorontalo memang terbiasa dengan berteriak-teriak hingga pada akhirnya terbawa hingga saat ini.”
Sehingga mereka ada pengeksploitasan dengan suara lantang. Dan ketika dia mengucapkan apa yang di teriakkan full dengan ekspresi, menurut ust. Alim itu merupakan seni dalam berdikili. Karena pada dasarnya Dikili ini menurut Ust Alim adalah Dzikir yang berbalut dengan nuansa kesenian local (purba kala). Jadi mereka full ekspresi meneriakkan apa yang ada dalam pikirannya.
Dalam satu sisi beliau pun mempraktikkan cara pelaksanaan membaca dikili. Dengan alunan nada yang berada dalam pembacaan dikili.
Lanjut “ Jadi yang di teriakkan dari dulu hingga sekarang segala sesuatu yang ada dalam hati dan pikiran mereka semua. Dan jikalau mereka suka berteriak maka mereka berteriak. Intinya untaian-untain atau ucapan yang di teriakkan dalam Dzikir (Dikili) merupakan Dzikir-dzikir yang harus di ucapkan secara keras yang kemudian itupun di sampaikan pula para Ulama-ulama Gorontalo terdahulu. Sehingganya secara historis Budaya dikili dalam konsep keberislaman Gorontalo pertama di perkenalkan setalah Sultan Amai masuk.
Akan tetapi, budaya berteriak-berteriak itu memang sudah ada sejak sebelum sultan Amai masu. Pada akhirnya, Sultan Amai meng-Instruksi kan berteriak dengan lafal-lafal Islam yang di tulis oleh para ustad-ustad ataupun ulama-ulama Gorontalo dulu.
Di tengah sisi penjelasan ust, Alim terkait sejarah berdikili di tengah masyarakat Gorontalo, kami sempat bertanya perihal “konteks Berteriak-teriak tadi di lakukan dalam kondisi apa ?”, yang kemudian di teriakkan sebelum Sultan Amai Masuk di Gorontalo dan merubah lirik dikili yang kemudian di pakai hingga saat ini.
Menurut ust Alim, “berteriak-teriak itu di lakukan dalam kondisi yang senang, bahagia dan semacamnya. Intinya segala sesuatu yang membuat hati mereka enak maka mereka berteriak yang kadang kala ada hubungan-nya dengan Ke-Indahan Alam, peristiwa yang ia lihat ataupun di alami, bahkan kadang kala juga bermistik-mistik.
Beraneka macam yang penting suasana hatinya suka mengekspresikan sesuatu untuk meneriakkan sesuatu tersebut, yang pada intinya ada hubungan-nya dengan Seni ( buka berteriak dalam kondisi marah).” Dalam melakukan teriakan juga memiliki tekana-tekanan sendiri.
Satu sisi kembali bertanya perihal pelaksanaan Dikili yang di laksanakan dari habis isya hingga sampai pagi hari, (biasanya selesai jam 09.00 pagi). Apa yang membuat sehingga para pen-dikili betah dan merasa nyaman mekantunkan syair-syair yang ada dalam Dikili ? .
“ Disetiap orang yang melantuntkan Dzikir pastinya mereka menemukan ke-nyamanan. Orang yang berdikili tahan sampai pagi hari dengan berteriak-teriak dan di laksanakan sampai pagi itu karena di dalam tubuh orang yang berdikili ada ke enakan yang tertanam dalam melakukan dzikir (dikili), sangking senangnya mereka mendapatkan kenyamanan dalam melantunkan Dikili hingga pagi.
Hal tersebut akan lebih menarik lagi apa bila mereka bertemu dengan patner, itu akan menambah lagi ke Khusyukan dalam berdikili.” Bahkan di saat mereka bertemu, mereka akan saling beradu atau bertanding.
Setelah kami mempertanyakan perihal apa itu Dikili, makna dikili dan kenapa harus berteriak-teriak, kami mencoba mempertanyakan perihal makna-makna filosofis yang ada dalam pelaksanaan Dikili, Seperti Tolangga , mengapa bentuknya megerucut keatas.
Beliau menjawab “ inti dari makna tolangga mengapa mengerucut keatas menandakan di atas adalah puncak ke Ilahian dan keyakinan kepada Allah. Dan simbol-simbol seperti itu sudah ada sejak sebelum Sultan Amai, dengan prinsip monotoiseme.
Gambar Tolangga yang di arak menuju masjid perayaan Maulid
Yang kedua ada yang di namakan “Bulita” (bangunan berbentuk segi empat yang di bangun dalam masjid yang di hiasi dengan daun kelapa Muda ). Itu merupakan tempat bagi orang-orang yang di beri kehormatan. Para iman, pegawai sara’, raja-raja terdahulu (kepala daerah saat ini), itu di tempatkan di dalam dan tempatnya telah di atur sedemikian rupa. Sebalah kanan tempatnya para perangkat-perangkat kerajaan, sebelah kiri para tokoh agama (Iman,khatib dan pegawai sara’ lainnya), dan di tengah ada Qadi-Qadi dan para bate.
Lanjut kami bertanya perihal ke-Peka-an anak muda yang mulai berkurang dengan budaya atau tradisi local. Sekarang banyak anak muda yang tidak tidak senang, dan kira-kira bagaiamana agar anak muda tersebut tertarik untuk kembali mempelajari budaya-budaya local.
“ adab atau kebudayaan ini (orang gorontalo sering menyebut bahwa adab adalah bagian dari pada kebudayaan), itu nilai norma sistem sosialnya itu sudah banyak yang tidak di ketahui dan di jelaskan sehingga yang paling banyak hanyalah pelaksanaan atau upacaranya. Dalam artian makna filosofis dari pelaksanaan dari kegiatan tersebut itu tidak di ketahui atau di jelaskan kepada masyarakat luas khususnya bagi generasi muda. Salah satu contohnya kenapa harus pakai bambu kuning pada bangunan bulita, dll. Jangankan di ketahui, nilai saja sudah tidak ada. Sehingga adat itu lebih bertahan pada upacaranya (ritualnya).
Sementara kontkes anak muda dunia yang di pijaki sekarang itu sudah jauh sekali berbeda dengan anak muda zaman dulu. Mereka memaknai dirinya dengan apa adanya di dunia ini yang begitu tidak mendatangkan makna, juga tidak memberikan tantangan kepada meraka, dan anak muda sekarang tidak mengerti akan adat yang merupakan warisan budaya. Nah karena mereka tidak mengerti sehingganya mereka lari ketempat lain, intinya tidak ada yang menarik bagi mereka sebab tidak di jelaskan makna dari setiap pelaksanaan tersebut.
Lanjut “ artinya apa, hal seperti ini harus ada penyesuaian, adat itu harus ada penyesuaian bagi anak-anak muda, hanya saja sebagian besar terutama generasi tua memiliki pemahaman bahwa jangan ada perubahan. Intinya yang perlu di pertahankan di situ adalah Nilainya. Akan tetapi orang kemudian takut untuk mengambil resiko itu sehingga ada narasi “itu jangan di rubah, biarkan itu tetap begitu saja”.
Bagaimana agar ini tetap bertahan dan kita tetap bisa kreasi, nilai dan norma tetap ada, ya kurang lebih seperti yang saya jelaskan tadi. Yang menjadi persoalan "hubungan antara orang tua Dan anak muda yang terlalu jauh. Yang muda tidak mau dan yang tua juga ragu-ragu". Oleh karena itu dalam hal ini komunikasi berperan penting.
Di sisi terakhir diskusi kami, beliau berencana mencoba mengumpulkan semua budayawan Gorontalo untuk bersama-sama menciptakan metode Dikili yang baru (dikili tradisional dan modern) layaknya lantunan sholawat yang biasa di putar melalui youtube (Nisa Sabian dan Mahaer Zain). Tentunya tetap mengedapankan nilai dan norma yang tidak membangkitkan syahwat. Pastinya jikalau itu terwujudkan maka akan ada daya tarik bagi generasi muda untuk tetap merealisasikan adat dan budaya local tersebut.
Dokumentasi :wawancara bersama Ust. Alim Niode, terkait Dikili
Penjelasan di atas menjadi akhir dari diskusi kami dengan ust. Alim Niode selaku Narasumber, serta beliau mencoba memberikan solusi agar anak muda tetap bisa ingin belajar Dikili, sekaligus menjadi kesimpulan dari pertanyaan terakhir saya perihal ketidak pekaan anak muda perihal budaya local Gorantalo.
Satu sisi saya sebenarnya masih ingin mempertanyakan beberapa hal, akan tetapi nampaknya beliau sedang terburu-buru sebab, beliau akan menuju ke suatu lokasi yang sebelumnya sudah ada janji bersama keluarga untuk menuju ke Rumah sakit. Sehingganya saya dan sahabat Rodney pun izin pamit agar tidak menyita terlalu banyak waktu beliau
Saya dan Rodney pun akhirnya berpamitan dengan Ust. Alim S. Niode. Sebelum meninggalkan tempat beliau, beliau memberikan support dan mengapresiasi atas apa yang saya lakukan, dan memberikan saran agar kiranya nantinya kembali kedaerah untuk melakukan riset yang sama dengan riset yang saya lakukan saat ini, hal itupun di sarankan kepada sahabat Rodney. Kami pun mengiyakan apa yang beliau perintahkan.
Setelah itu saya dan Rodney bertolak menuju kos untuk melanjutkan aktivitas perkuliahan (tugas kuliah). Di tengah perjalanan, Rodney menanyakan apakah saya masih butuh referensi atau sudah cukup, dan saya pun berkata saya masih butuh. Pada akhirnya pun ia menawarkan untuk bersama-sama menemui orang yang senantiasa ber-Dikili yakni Ust, Rionaldi Doe dan Kiai Haji Rasyid Qomaru sebagai Qodi kota gorontalo dan mencoba meminta tanggapan dari perspektif islam perihal Dzikir atau Dikili yang di lakukan dengan keadaan berteriak-teriak.
Gambar di Atas Hanya Pemanis Semata.
Komentar
Posting Komentar