158 Adalah Angka Kebangkitan Butta Turatea Jeneponto ku

Kelahiran adalah suatu proses yang panjang dan merupakan momentum awal dan tercatatnya sebuah sejarah.  Baik itu bangsa, negara, ataupun daerah yang kemudian menjadi tongkat dimulainya peradaban baru. Oleh karena itu kelahiran tersebut memiliki makna yang sangat mendalam bagi peradaban manusia. 

1 Mei 1863 adalah angka  yang sangat berharga dan menjadi catatan sejarah terpenting bagi masyarakat kabupaten Jeneponto.  Mengapa demikian,  sebab momentum 1 Mei 1863  tersebut merupakan penetapan tanggal hari jadi Jeneponto. 

Siapa yang tidak mengenal Jeneponto, kota dengan seribu kuliner, memiliki persatuan yang sangat tinggi, jiwa keberenaian yag selalu tertanam dalam diri masyarakatnya,  serta kota yang selalu di identikkan dengan gantala jarangnya yang selalu menggiurkan untuk di cicipi.  Kota yang selalu menjungjung tinggi nilai-nilai siri’ na pacce. Dan motif keberanian yang selalu di jadikan title abadi bagi masyarakat Jeneponto. 

Penetapan hari jadi Jeneponto sendiri,  bukanlah merupakan waktu yang singkat dan pastinya melibatkan banyak referensi ataupun acuan dan melibatkan beberapa tokoh-tokoh sejarah.  Akan tetapi pada artikel yang penulis  coret pada kali ini tidak akan membahas secara mendalam bagaimana perjalanan  sehingga Jeneponto itu terbentuk.
 
158 adalah angka  yang sangat istimewa bagi perjalanan  kabupaten Jeneponto sendiri. Sebab angka 1 bisa di artikan sebagai simbol persatuan,  kemerdekaan, pembebasan , sedangkan angka 5 bermakna sebagai perubahan , keragaman, dan angka 8 dapat bermaknakan kemakmuran.  

Dalam artian sederhana peringatan hari ulang tahun Jeneponto yang ke 158 tahun ini, Dengan semangat persatuan masyarakat kabupaten Jeneponto di harapkan  mampu  melakukan perubahan dan bangkit melawan pandemi covid 19, sehinga Jeneponto menjadi kabupaten yang sehat dan smart serta menjadi daerah yang makmur dari segala aspek. 

Sudah saatnya Jeneponto bangkit membenahi kecacatan dirinya sendiri. Dengan cara  masyarakat dan para aparat serta pemerintah  bersatu dan  duduk berbincang bersama membahas  Jeneponto sendiri.

Apalagi hari lahir Jeneponto selalu bersamaan dengan momentum hari Buruh Nasional.  Menurut penulis ini bukan lah hal yang kebetuluan, dua momentum  besar yang bersamaan. Bisa saja ini sudah menjadi petunjuk bahwa Pemerintah Jeneponto memang harus selalu menggandeng masyarakat pada umumya, untuk memikirkan bersama agar kiranya Jeneponto dapat menjadi kabupaten yang Progresif. 

Dengan semangat 158 yang baru,  pemerintah harus bisa berbaur dan merangkul masyarakat nya sendiri sebagai kelompok mujahid khususnya kaum  muda sebagai penerus generasi masa depan bangsa dan juga merupakan aset terpenting bagi daerah nya sendiri. 

Begitupun sebaliknya, masyarakat pun sudah saatnya membuka ruang kepada aparat dan pemerintah untuk duduk bersama demi mencapai tujuan utama kita bersama, yakni kesejahteraan, kemakmuran, dan kedamaian bersama. 

Khusus untuk kaum pemuda, jadikanlah semangat baru ini sebagai percikan api kecil yang mampu menghanguskan sebuah bangungan kumuh. Jangan menjadi pemuda yang terjebak pada nuansa-nuasa kuno yang tak mau berfikir progrsif, yang hanya mampu bersikap apatis, melihat kecacatan daerah mu sendiri.  cara nya gimana??, pemuda kreatif dan selalu berfikir progresif tidak akan pernah bertanya demikian. 

Banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk membangun Jeneponto. Penulis yakin dan percaya bahwa di tangan-tangan tau rungka na taulolonna Jeneponto,  pasti akan menciptakan sebuah gerakan baru yang pastinya akan memajukan Jeneponto sendiri. 

kunonya pakain kita bukan berarti pemikiran ataupun gagasan kita bisa menjadi kuno juga. Dengan menjungjung tinggi nilai-nilai siri’ na pacce yang tertanam dalam diri kita, penulis yakin dan percaya bahwa dengan semangat persatuan, mayarakat kabupaten Jeneponto mampu  melakukan perubahan dan bangkit melawan pandemi covid 19. khususnya dengan sumbangsi gagasan dan gerakan yang dilakukan  para Tau Rungkana Na Tau Lolonna. 

Momentum hari lahir Jeneponto yang ke 158 dan hari buruh nasional ini, tentunya masyarakat luas pasti mengharpkan Hubungan antara Masyarat, Kaum Pemuda, Aparat serta  Pemerintah tetap terjaga dan tetap kokoh dengan tetap menjungjung tinggi nilai siri’ na pacce yang kemudian mampu mengharumkan nama daerah.  

Oleh karena itu dengan semangat baru ini, bungkus lah dan ikatlah secara baik, sebaik-baiknya hubungan tali silaturahmi antara kelompok yang satu dan kelompok yang lainnya dengan erat, sebagaimana kuatnya Jeneponto mengingat 11 mata air yang senantiasa mengalir di tubuh Jeneponto sendiri. 

Nakana karaeng:, apa pammateinna namalompo buttaya?, Nakanamo innialleanga kananna, nia ruabateianna iamintu: Makasekrena ; punna malambusuki karaenga na mangngasseng, Makaruanna; punna akrurung gaukmo tumakparasanganga

Terjemahannya:

Karaeng berkata: Apa tanda-tandanya sebuah negara yang makmur penduduknya. Orang yang didengar katanya (kepercayaan karaeng) menjawab, ada dua tandanya, yaitu, Pertama; Apabila raja (pemimpin) sudah berlaku jujur. Kedua; Apabila keinginan rakyat sudah sejalan dengan keinginan penguasa.

Suatu kutipan pappasang/pesan orang tua terdahulu di atas, mungkin bisa menjadi renungan bersama bagaiamana perjalanan Jeneponto 157 tahun berlalu dan menjadi akhir dari coretan  artikel ini. 

Tetaplah jadikan jeknek sebagai kehidupan, dan Ponto sebagai Pemersatu, serta Kuda Jantan sebagai Lambang Keberanian kita bersama. Tetaplah Akbulo Sibatang Akcerak Si Tongka-Tongka. 

Jeneponto ku, Jeneponto nu, Jeneponto ta, 

               Jeneponto kita bersama



#saya Bangga Akjari Tau Rungkana Jeneponto
#Dirgahayu Jenepontoku yang ke158
#Salamak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Torang Bekeng Bae’” Bukan Sekadar Slogan: Kritik atas Pembatasan Keterlibatan Kaum Waria dalam Perayaan Kemerdekaan

Grand Line Pendidikan: Menemukan ‘One Piece’ dalam Dunia Belajar"

I Makdi Daeng Ri Makka: Sosok Calon Raja Yang Terlupakan