Bidadari dan Malaikat ku Pun Sudah Merindukan ku
Tepat pada jam 03.00 pagi aku di bangunkan oleh alarm ku yang senantiasa menemani dan membangunkanku di saat waktu sahur sudah tiba. Di karenakan aku tinggal sendiri, ya semuanya pun ku persiapkan dengan sendirinya. Aku mulai terbangun dari tempat tidurku, sejenak terdiam dan merenung sekaligus memperbaiki perasaan sehabis bangun dari tidurku yang nyenyak. Lepas itu akupun berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukaku yang kusut.
Selepas ku membasuh mukaku yang kusut, akupun menikmati sahurku dengan perasaan sedih dan bahagia yang bercampur aduk tidak karuan. Sahurku, ku lakukan dengan penuh hikmat dan sempat ku meneteskan air mata, karena mengingat Ramadhan kali ini kembali aku tak bisa menikmati sahur bareng dengan sanak keluarga khusus-Nya Amma’ dan Bapakku, bahkan aku pun tak bisa melakukan Hari Raya dengan mereka.
Setelah aku menikmati santap sahurku, aku pun perlahan duduk sejenak sambil menunggu air panas yang nantinya akan ku pakai untuk menyeduh segelas teh panas. Dikarenakan kopi ku habis, ya, dengan penuh rasa syukur aku pun menyeduh teh tersebut. Disaat aku menyeduh teh kembali aku teringat kepada sanak keluarga khususnya Ammaku yang selalu menyiapkanku teh/ kopi panas selepas sahur.
Setelah itu, perlahan aku mendekati sebuah laptop yang nganggur, seakan-akan menyapa dan mengucapkan selamat menikmati sahur terakhir pada Ramdhan kali ini. Akupun membuka dan menghidupakn laptop tersebut, dan perlahan huruf demi huruf, kata demi kata pun ku tulis pada layar desketop ini dan pada akhirnya membentuk susunan kalimat dan paragraf.
Tepat pada selasa malam 11 mei 2021 pukul 18.47, aku sementara asyik mengerjakan tugas kawanku yang meminta bantuan kepadaku dan nantinya ku di beri upah sebagai tanda terima kasih darinya. Tiba-tiba HP ku berbunyi, seketika akupun melihat-Nya dan tenyata panggilan dari nomor yang tak kukenal. Akupun mengangkat telpon tersebut, ternyat itu panggilan dari adikku yang kedua ( fadil).
Di awal telepon dia menanyakan kabarku. “ bagaiamana kabarta daeng fajar?” Tanya nya, dan aku pun menjawab “alhamdulillah baik-baik” dan sebaliknya ku tanyakan juga kabarnya dan keluargaku di sana dan tak lupa ku tanyakan kabar bidadari ku yang sangat ku cintai. Dan ia pun berkata “ Alhamdulillah baik”. Akupun saling berbalas sapa layaknya kakak beradik yang tengah bersua melepas rasa rindu yang lama terbendung.
Di tengah pembicaraan adikku pun mengalihkan panggilan suaranya ke panggilan video atau bahasa tren-Nya Video Call (Vc), sembari ia berkata “ angkat Ki dulu daeng Fajar”. Akupun langsung mengangkat panggilan video tersebut, dan aku melihat bidadariku yang nampak semakin tua yang setiap saat selalu tersenyum.
Perlahan fadil mendekati bidadari ku dan berkata “ Nek, kakakku menelpon” .Dikarenakan usianya yang semakin tua dan renta, pendengaran-Nya pun terganggu, dan fadil berulang kali mengatakan hal yang sama, sampai pada akhirnya layar HP-Nya pun di perlihatkan kepada-Nya. Sontak dengan penuh bahagia pun bidadariku berkata “O Kodong cucuku, bagaiamana kabarmu nak? “ (dalam bahasa Makassar).
Dengan perasaan yang sangat bahagia aku pun menjawab sambil tersenyum “yek Nek, alhamdulillah saya baik-baik saja “ dan ku tanyakan pula pertanyaan yang sama (dalam bahasa makassar). Ya beliaulah nenek ku yang senantiasa memperhatikan ku dari kecil selain keluarga dan orang tua ku.
Beliau yang selalu menanyakan kabarku, aku makan apa selama di sini, bagaimana dengan ekonomiku, dan paling penting satu pertanyaan yang tidak pernah beliau lupakan di saat aku menghubungi beliau yaitu berapa tahun lagi kamu di sana ?, (dalam bahasa Makassar). Akupun selalu menjawabnya dengan berkata In Sya Allah Sedikit lagi Nek.
Pada percakapan ku dengan beliau pada kala itu membahas banyak hal, salah satunya adalah beliau bertanya kapan saya pulang dan mengapa tidak balik dan lebaran disana bersama dengan mereka.Akupun menjawab dengan alasan akademisi yang harus saya selesaikan sehingga saya belum sempat untuk balik.
Tak hanya nenekku yang bertanya demikian akan tetapi, Ammak dan Bapak pun selalu bertanya demikian, apa lagi ammak ku dimana beliau pernah bertanya hal yang sama pada pembicaraan berdurasi 15 menit melalui via telepon beberapa hari sebelumnya.
Akhirnya dengan suasana bercanda saya menjawab dengan jawaban yang sama halnya dengan apa yang saya sampaikan kepada nenekku. Tak heran bagiku jikalu ammak dan nenekku menanyakan hal demikian, sebab mungkin rindu yang sangat berat untuk bertemu dengan anak dan cucu-Nya yang tak bisa di bendum lagi.
Ya memang ini bukan kisah rindu antara Dilan kepada Milea, yang katanya dilan “ jangan rindu itu berat biar aku saja”. Akan tetapi, aku bukan lah Dilan, dan mereka berdua pun bukan Milea. Melainkan aku hanya sosok pemuda biasa yang memiliki mimpi yang tinggi, sedangkan merekalah dua insan yang bagiku kecantik dan kebaikannya sangat luar biasa bahkan mampu melebihi sosok milea yang selalu di agungkan si Dilan, Ya mereka lah Bidadari dan Malaikat tak bersaypku yang selalu menjadi penyemangat dam motivasi ku salama saya di perantauan.
Kurang lebih 10 menit aku dan nenekku saling bersua melepas rasa rindu dan saling bercanda adik ku berkata “ Daeng fajar sudah mi dulu nah, mau dulu ku kasi makan nenek, ka belumpi makan dan sudah mi juga di sediakan makanan”. Aku pun berkata “ oh iyya ndik, saya juga mau lanjut kerja tugas dulu’’.
Akan tetapi sebelum telepon tersebut di matikan, sontak nenekku bertanya kembali “ Berapa tahun lagi kamu di sana?, dan apakah selepas kuliah, kamu betul akan menjadi guru ? ( dalam bahasa makassar). Aku pun tersenyum mendengar pertanyaan dari nenekku yang berdemage ke dalam hati ku, dan kembali ku jawab dengan santai dan berkata “ In Sya Allah, di serahkan saja semua-Nya sama yang maha pengatur jalan dari hamba-hambanya” (dalam Bahasa Makassar).
Mendengar jawabanku, beliau dan adikku-adikku tertawa. Aku pun tak tahu maksudnya apa? Mengejek atau malah memberiku semagat, berselang beberapa detik terdengar suara "TUT, TUT, TUT," Menandakan telepon telah mati.
Dan setelah telepon pun mati, aku pun mulai melanjutkan pekerjaan ku, dan kembali air mataku tiba-tiba mengalir dengan sendirinya. Sontak kertas tugas ku pun basah akibat cucuran air mata ku, dan bertanya dalam hati apakah saya akan di pertemukan dengan mereka lagi atau tidak?.
Pada akhirnya aku pun mengusap air mataku dan hatiku berkata “Allah sudah mengatur semuanya” pasti allah akan memberikan yang terbaik untukku, kedua orang tuaku, nenek-nenekku, adik-adikku dan keluargaku.
Sehat selalu bidadari dan malaikat tak bersayapku
Minal Aidin Wal Faizin
Selamat Hari Raya
Komentar
Posting Komentar