PASIAR

Ahad 16 Mei 2021 kumulai menuliskan satu kata pembuka yag akan menjadi awal cerita dalam tulisanku kali ini. Niatnya tulisan kali ini akan menceritakan serentetan perjalanan ku pasca hari raya Idul Adha 1442 H. Hari ini tepat 3 hari di bulan syawwal akan tetapi banyak rentetan cerita di balik perjalananku selam 2 hari kebelakang yakni 13 Mei 2021 yang bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1442 H. Ceritaku pun ku berawal dari sini. 

13 Mei 2021 yang bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1442 H banyak cerita dan pelajaran yang akan saya tuliskan untuk mengenang hari itu. Dengan perasaan bahagia, sedih bercampur aduk menjadi satu untuk menyambut hari yang fitrah tersebut. tepat 03.15 aku terbangun di karena kan alarm bangun sahurku yang belum aku non aktifkan. Dan pada akhirnya saya pun tidak bisa tertidur kembali, sembari menunggu waktu subuh tiba, akupun membuka blogspotku untuk membuka dan me-riview kembali tulisan-tulisan yang tengah aku tulis sembelumnya. Satu per satu tulisanku ku baca dan ku berbaiki.

 Tak terasa waktu sudah menunjukkan tepat pukul 04.15, radio masjid mulai berbunyi dan terdegar lantunan suara Takbir, Tahmid dan Tahlil menandakan hari kemenangan umat muslim pun telah tiba. Akupun dengan perasaan bersemangat bersiap-siap dan merapikan tempat tidurku dan langsung bergegas kemasjid. 

Sesampai ku di masjid, saya di perlihatkan dengan suasana yang awam bagiku, aku melihat pak Imam masjid tersebut sedang membakar dupa di dalam masjid sembari melantukan kalimat Takbir, Tahmid, dan Tahlil. Aku pun tak tahu maksud dan tujuan tersebut apa, dan rasa penasaran itu aku jawab sendiri dalam hati dengan berkata “mungkin ini sudah menjadi bagian dari kultur budaya dan tradisi bagi masyarakat Gorontalo pada umum-Nya. 

Agar saya tidak berpikir yang aneh-aneh maka saya segera melaksanakan sholat tahiyatul masjid sebanyak 2 rakaat dan saya lanjutkan dengan sholat sunah 2 rakaat sebelum subuh. Selepas saya melaksanakan sholat sunnah ku, perlahan masyarakat pun berdatangan dan mengisi rumahnya Allah swt. Dan pada akhirnya kami pun melaksanakan sholat subuh secara berjamaah. 

Selepas kami melaksanakan sholat subuh secra berjamaah, saya dan para takmirul dan para jamaah masjid pun bergotong royong untuk mempersiapkan tempat bagi para masyarakat untuk di tempati sholat idul fitrih, sebab tidak ada panitia.  Dengan perasan gembira dan penuh semangat pekerjaan berat malah terasa ringan karena kami bergotong royong bersama. 

Tepat pukul 05.45, saya pun berpamitan kepada para takmirul dan jamaah untuk kembali sejenak ke kos sembari bersiap-siap untuk melaksanakan sholat idul fitri. Saya pun kembali, sesampainya saya di kos,  saya menyiapkan pakain, sarung, sejadah dan peci yang nantinya akan ku kenakan di saat sholat idul fitri. 

Sebelum itu, akupun menyetrika baju kokoh dan sarung beserta sajadahku, akan tetapi karena tak berhati-hati akupun terkena panas nya setrika dan pada akhirnya membekas hingga saat ini. Setelah itu aku langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diriku (Mandi). 
Setelah itu akupun bersiap-siap untuk menuju kemasjid dan menunaikan sholat idul fitri. Se sampai nya di masjid akupun langsung berbaur dengan para jamaah dan mengontrol para jamaah serta tetap memperingatkan perihal anjuran pemerintah mengenai protokol kesehatan.  

Sekitar pukul 06.30 menit aku pun bergegas masuk kemasjid dan mengisi saf yang telah di atur dan di sediakan oleh para pengurus masjid. Seketika sajadahku pun kubentangkan dan duduk diatas bentangan sajadah ku sembari mengikuti para jemaah mengumandagkan kalimat Takbir, Tahmid dan Tahlil. Akan tetapi setelah beberapa saat saya duduk, sayapun di minta untuk memimpin masyarakat mengumandangkan kalimat Takbir,Tahmid, dan Tahlil. Dengan penuh kepercayaan diri sayapun menerima ajakan dari bapak yang memintaku, sekaligus memperlihtkan kepada masyarakat sekitar bahwa pemuda pun bisa berbaur dan aktif dalam kegiatan keagamaan. 

Dimana kita ketahui bersama bahwa di Era sekarang ini kepercayaan masyarakat terhadap pemuda perihal agama sudah mulai hilang, sehingganya dengan harapan saya, mengambil peran tersebut (walauapun sementara) mampu membantah argumen mereka. Setelah beberapa saat kemudian, khatib dan kebetulan juga menjadi Iman sholat Idul fitrih pada saat itupun telah  tiba. 

Tepat pukul 06.50 bapak yang menjadi seorang bilal pun berdiri, dan menyeruh kepada masyarakat bahwa pelaksanaan sholat idul fitri akan dimulai, seklaigus mengingatkan kembali tentang niat dan  tata cara pelaksanaan sholat Idul Fitri menggunakan bahasa Gorontalo. Sejujurnya awalnya saya tak tahu sama sekali apa yang dikatakan oleh pak bilal, akan tetapi perlahan saya pun mengerti maksudnya  apa.  Setelah itu kami pun berdiri dan melaksanakan  sholat idul fitri secara berjamaah dengan penuh khidmat. 

Singkat cerita, sholat idul fitri pun kelar, dan khatib pun mulai menaiki mimbar untuk menyampaikan khutbah Idul Fitrinya. Dengan suasana yang begitu tenang dan hening saya memperhatikan dan merenungkan setiap apa yang di sampaikan oleg sang khatib. Sampai pada akhirnya masuk di khutbah kedua dan membacakan suatu doa dan tak terasa airmataku mengalir, karena doa tersebut mengingtakan saya akan dosa-dosa yang pernah saya lakukan.  Khususnya kepada orang tua dan para keluargaku di kampung. 

Sang khatib seakan-akan memberikan renungan kepada jamaah, khususnya saya pribadi akan dosa yang pernah kami lakukan kepada setiap manusia, baik di sengaja ataupun tidak sengaja (khilaf). Di penghujung khutbah sang khatib, kembali air mataku kembali bercucuran di karenakan moment ini merupakan moment awal bagiku tidak melakukan hari raya bersama dengan para keluaraga. 

Khutbah pun berakhir, dan saya pun bangkit dan ku usap air mataku agar tidak kelihatan bersedih dan cengeng di mata para jemaah lainnya. Sebelum aku balik ke kos, ku sempatkan diriku untuk kembali membantu para pengurus masjid merapikan tikar-tikar yang di pakai oleh jemah dalam melaksanakan shalat idul fitri. 

Selang beberapa saat, tiba-tiba Handphoneku berbunyi, akupun bergegas mengeluarkannya dari saku bajuku untuk melihat itu panggilan dari siapa. Ternyata itu panggilan telepon dari temen se perantauan ku yang sudah saya anggap sebagai satu dari sekian banyak kakak saya selama di Gorontalo. Dia adalah kak Alam, yang merupakan teman sekampung yang memang sudah sejak lama merantau di Gorontalo bersama dengan bapaknya. 

Saya pun mengangkat telepon tersebut, dan berkata.  “Assalamu alaikum kakanda ku, perintah?, dan di jawab “Wa alaikum salam dek, sekarang dimana?, kalau bisa siap-siap saja saya mau jemput dan mau ajak pasiar (silaturahmi)  ke rumah keluaraga”. saya pun berkata “oh iyye kak bisa, tapi saya  masih baku bantu di masjid ini untuk merapikan tempat sholat idul fitri, kalau sudah selesai saya akan hubungi kembali” , kak alam menjawab ‘OK pale”.  Telepon mati, sengaja saya tidak mengucapkan minal aidin wal faizin karena saya tahu bahwa pasti kak alam akan ke kos. 

Pekerjaan ku pun sudah selesai dan pada akhirnya saya kembali ke kos, di saat aku membuka pintu kamarku, akupun langsung duduk di kasur dan mengambil posisi yang nyaman, dan langsung menelpon bapak dan ibu serta keluarga di kampung. Akan tetapi, di saat saya menghubungi mereka tak seorang pun yang mengangkat telepon saya, berkali-kali aku menghubungi nya akan tetapi tetap tidak ada balasan. Dan aku pun berkata mungkin belum balik dari sholat idul fitri dan HP beliau ti dak di bawa. 

Selang beberapa saat, Hp ku kembali berbunyi dan aku kira itu telepon balasan dari ornag tua atau pun keluargaku di kampung. Ternyata bukan, yang menelpon adalah kak Alam yang memberi tahukan kepada ku bahwa sekarang kak alam sudah ada di bawa kos. Saya pun kaget, dan langsung mengganti pakaian ku dan memintanya menunggu sejenak. 

Saya pun menghmapiri kak alam dan berkata minal aidin wal faizin sambil berjabatan tanagn dan beliau pun mengucapakan kalimat yang sama. Selepas itu, kak alam meminta ku untuk ikut bersamanya untuk menemaninya berkunjung ke rumah keluarga nya. Karena rasa hormatku sebagai seorang adik, saya pun bersedia untuk menemani beliau. 

Pasiar ke kediaman  keluarga kak Alam

Di tengah perjalanan saya bertanya tujuan kita kemana, ia pun menjawab bahwa kita akan ke rumah mertuanya, lalu ke rumah keluarga istrinya kak alam ( nenek kak sophie), lalu ke keluaraga kak alam. Saya pun mengikut saja. Sesampainya kami di rumah istrinya kak alam, saya pun bersalaman degan orang tua kak sophie ( mertua kak alam), serta dengan kak sophie.  

Saya pun di persilahkan untuk duduk, layaknya seorang tamu yang berkunjung ke rumah beliau, setelah itu istri kak alam memberiku dua buah kue bolu dan kak alam sibuk mengambil gelas dan menuangkan segalas sprite untukku. Dengan perasaan sedikit tidak enak dan malu-malu akupun berkata “ aduh sudah jo kak, tak usah repor-repot, fajar ta’u”. Kak alam membalasku dengan berkata, “deh santai lalo mako, anggap saja rumah nya sophie” ( melawak tapi agak  garing).

Sayapun mencicipi kue bolu tersebut, baru satu bolu yang saya makan, kami pun sudah di ajak untuk pergi, karena masih ada satu kue bolu yang belum saya makan, akhirnya saya pun menaruhnya di saku celanaku. Karena ajaran orang tua apaupun yang orang berikan sama kamu yang jelas itu baik, kamu harus terima, jangan menolak apa lagi mengembalikannya. Oleh karena itu, saya tidak mengembalikan kue bolu itu dengan maksud saya akan memakan-Nya di perjalanan nanti. 

Kami pun berangkat bersama menggunakan mobil, 1 mobil saya, kak alam, dan kak sophie.  Sedangkan mobil yang satunya lagi di isi oleh kedua mertua kak alam dan kedua adik ipar kak alam. Tujuan pertama kami yakni berkunjung ke nenek kak sophie yang berada di Bone Bolango. Di tengah perjalanan handphone saya kembali berbunyi, dan ternyata itu telepon dari bapak saya. Seketika saya pun mengangkat telepon tersebut. 
Di saat aku mengangkat telepon tersebut, terdengar isak tangis dari bapakku, yang mengatakan bahwa bapakku sangat merindukan kehadranku untuk berkumpul dengan sanak keluarga di sana, di tambah lagi bapakku melihat kedua adikku yang duduk bersama menikmati hidangan hari raya Idul Fitri yang lezat. Beliau berkata sisa diriku yang tidak ada dan momen tersebut yang sangat bapakku harapkan. Isak tangis terus mengiringi suara telepon saya dan bapakku, dan sekitika aku pun tak mampu berkata apa-apa hanya air mata yang perlahan mengalir. 

Namun karena suara bapakku yang terus memanggilku aku pun menjawabnya dengan suara yang sekan-akan saya dalam keadaan yang tangguh dan kuat, walaupun air mata terus mengalir dan perlahan pula ku usap. Sebab bapakku pernah berkata “dalam keadaan apapun jangan pernah kau biarkan mengalir air matamu, menangislah tapi jangan biarkan air mata mu mengalir dan jangan sampai saya tahu bahwa kau sedang menangis, sebab itu menandakan saya gagal mendidik mu sebagai anak yang kuat dan tangguh”. 

Satu sisi saya pun malu terlihat cengeng di depan kak alam sehingga saya berusah menyembunyika suara isak tangisku. Bahkan saat itu kak alam pun ngeldek saya dengan maksud agar saya nda menangis dan tetap teguh dan tetap bersabar akan peristiwa ini.  Di saat beliau meledek saya, saya selalu menanggapinya dengan keadaan positif dan meyakini pasti ada maksud dan tujuan tertentu beliau melakukan ini kepada saya.  Kurang lebih 10 menit saya dan bapak saya telepon pun mati, karena bapakku telah mematikan telepon tersebut karena ada tamu yang datang kerumah, dan sebelumnya bapakku sudah mengatakan nya kepada saya. 

Sesampainya kami di sana, saya sebenarnya malu di karenakan saya tidak mengenal siapa-siapa di keluarga tersebut, dan berasa langsung ingin pulang seketika. Akan tetapi, kak alam dan salah seorang pria yang ada di keluarga tersebut mengajak untuk masuk, dan dengan perasaan percaya diri dan bermuka Tembok sayapun masuk. Pada akhirnya saya pun di persilahkan untuk mencicipi makanan mereka, yang serba mewah dan lezat. 

Setelah saya makan, saya pun beranjak dari tempat duduk saya dan keluar ke teras untuk mencari angin dan menghubungi kembali mamaku. Dan alhmadulillah telepon kali ini nyambung. Perbincangan ku dengan mama hampir sama di saat saya teleponan dengan bapaku. Akan tetapi di saat saya melakukan viceo call dengan ammak dan keluargaku di kampung saya benar-benar tidak bisa menyembunyikan isak tangisku terhadap mereka. 

Sebab rasa rindu ini yang telah menggebu-gebu ingin bertemu dengan mereka. Apa lagi saya telah di besarkan oleh nenek dan keluarga dari mamaku, sehingga nya perasaan untuk berkumpul dengan-Nya sangat besar. Oh iyye sekadar informasi juga bahwasanya, kedua orang tua saya sudah berpisah dan sudah memilih jalan hidup mereka masing-masing.

15 menit kerang lebih durasi video call saya dengan beliau telepon nya pun tiba-tiba mati, mungkin karena jaringan sehingga mati dengan sendirinya, dan kebetulan juga mama ku kedatangn tamu yang juga bersilaturahmi. Setelah beberapa saat, saya di panggil sama kak Alam, tujuannya meminta tolong untuk sementara waktu menjadi fotographer keluarga nya. 

Selepas mereka melakukan foto keluarga bersama, saya dan kak alam dengan kak sophie berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke keluarga kak alam (nenek nya kak Alam), yang terletak di kampung jawa. Kurang lebih berjarak 20 km dan kami tempuh selama kurang lebih 40 menit.  Pada akhirnya kami pun berangkat, kurang lebih 500 meter dari rumah nenek kak sophie, tiba-tiba kak alam berhenti di salah satu indomaret untuk membeli sebungkus rokok dan beberapa botol minuman segar yang nantinya akan menjadi teman jalan kami bertiga. 
Setelah semuanya sudah di beli, kami pun melanjutkan perjalanan. Di temani dengan suasana yang rindang karena hamparan sawah perkotaan yang hijau nan elok di pandang mata, serta suara musik yang indah menambah ke afdalan perjalanan kami. 

Di tengah perjalanan, saya dan kak alam saling mengobrol, tekadang kami menggunakan bahasa daerah makasar jikalau ada kalimat/atau kata yang seharunya tidak bisa di ketahui oleh kak sophie. Banyak hal yang kami diskusikan berdua, khususnya budaya dari kampung Halaman kami (Jeneponto) yang semakin hari kian pudar dan menghilang. Di samping itu pula, selain membahas budaya leluhur kami yang mulai hilang di telan oleh perkembangan zaman, kami berdua pun mencoba saling melontarkan solusi agar bagaimana caranya budaya ini kedepannya tetap terjaga di tengah-tengah perkembangan zaman.

 Beberapa budaya yang mulai hilang itu ialah takbiran sambil mengelilingi  desa sembari membawa obor sebagai penerang jalan kami, suara meriam bambu yang merupakan ciri khas datang-Nya malam takbiran gemah, serta masih banyak lagi (itu hanya sekadar dari segi ke agamaan saja). Akan tetapi semua kini terganti dengan keasyikan pemuda yang lebih senang melakukan takbiran di jalanan raya dan suara meriam di gantikan dengan suara petasan kembang api dan sejenis-Nya.  Saya pun berkata bahwa ini sudah menjadi tugas kita sebagai seorang pemuda seperti kita untuk mengembalikan budaya yang hilang dan tetap menjaga budaya yang masih ada sampai sekarang. Dan itu akan menjadi PR kita bersama sebagai pemuda yang memiliki tanggung jawab sebagai Agen Of Value (penjaga nilai-nilai kearifan lokal). 

Tak terasa perjalan kami pun sudah tiba di rumah yang nenek kak alam, akan tetapi kami hanya bertemu dengan omnya yang katanya akan langsung pasiar (silaturahmi) ke rumah-rumah keluarga yang lain-Nya dulu nanti terakhir di sini sekalian beristirahat. Kami pun mengikuti arahan dari paman kak alam. Satu per satu rumah kami kunjungan dan saya pun tetap setia mengawal perjalanan mereka. Dan pada akhirnya saya pun sampai kerumah terakhir yang mereka kunjungi. Di situ pandanganku tertuju pada sekumpulan pemuda yang duduk bersantai dan saling berbincang bersama. Aku pun tak tahu apa yang mereka bicarakan akan tetapi, kak alam mengajakku untuk berbaur dengan mereka. 

Kami tidak begitu lama di sana, dan pada akhirnya kami pun kembali ke rumah neneknya kak alam untuk beristirahat yang kebetulan rumah beliau tidak jauh dari sana. Sesampainya di sana, kami pun beristirahat sejenak, sambil menikmati teh botol tapi dikemas dalam bentuk kotak. Dan sempat saya berlelulocon dengan kak alam sambil mengkritik kemasan teh botol kotak tersebut. 

Beberapa saat kemudian, di saat kami rasa lelah kami perlahan mulai hilang, kami pun di undang kembali mencicipi makanan yang sudah di hidangkan, kami pun sontak berdiri bersama dan berjalan menuju dapur untuk memenuhi panggilan tersebut. sesampainya saya di dapur, sontak pandanganku menuju ke sekantong makanan yang khas dengan kampung halaman ku, yakni Buras daun (burasak). Aku pun langsung meminta untuk aku santap untuk mengobati rasa rinduku bagi kampung halaman dan keluarga. Kak alam pun memberikan dan bahkan meminta ku menghabiskan semuanya. Akan tetapi penampungan ku tak mampu untuk menghabiskan-Nya. 

Selepas saya dan kak alam menimati santapan siang yang di hidangkan, saya pun bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Setelah saya sholat, saya pun menuju teras rumah sembari menikmati angin sepoi-sepoi dan berbincang bersama dengan kak alam dan menanyakan habis ini kita akan kemana lagi. Kak alam pun berkata sudah tidak ada lagi kita sudah akan balik ke kota. Akan tetapi kita beristirahat dulu karena capek setengah hari ini kita berjalan terus sembari mnunggu paman-nya agar bisa balik bersama-sama. 

Setelah paman-nya datang kami pun berpamitan bersama-sama kepada neneknya kak alam. Di saat saya pulang saya duduk pada kursi paling belakang, sebab kursi yang di tengah di isi oleh 2 orang cewek yang merupakan adik kak alam sendiri. ya sebagai seorang lelaki saya pun harus mengalah dan rela duduk di belakang walapun panasnya minta ampun. Satu sisi saya kepanasan karena tidak terjangkau AC dan di tambah panas matahari yang menembus kaca mobil. Untuk menghilngkan rasa panas tersebut saya memilih untuk tidur dan berlindung di bawah sandara kursi mobil. 

Tak terasa kamipun sampai di kota, dan kedua adik kak alam telah sampai di rumahnya. Setelah kami mengantar kedua adik kak alam, kami pun langsung bergegas untuk pulang ke rumahnya kak sophie. Awalnya saya berniat meminta untuk di antar ke kos saja, akan tetapi kak alam meminta untuk saya beristirhat di rumahnya kak sophie saja. Karena senior saya yang juga seperantauan dari Sulawesi Selatan khususnya dari Sinjai yaitu kak Dian yang kerap saya sapa Kamis (kakak Manis) mengundang kami melalui via Gruop Whatshaap Ikatan Pemuda Sulawesi Selatan, untuk bersilaturahmi dan di agendakan dengan makan-makan bersama, yang tentunya makanan yang di sajikan pastinya makanan khas Daerah donk. 
Pada akhirnya saya pun mengikuti saran dari kak Alam untuk ikut beristirahat di rumah istrinya. Nantinya saya di suruuh beristrihat di kamar adik iparnya yang laki-laki. 

Awalnya saya menolak di karenakan saya tidak biasa tidur di kamar orang yang belum akrab dengan saya. Akan tetapi kak alam tetap memaksaku untuk tetap ikut, kak sophie pun demikian. Bahkan kak alam mengatakan sama kak sophie jikalau saya berniat kenalan dengan Adik perempuan-Nya yang bernama suci. Saya pun merasa malu dan senyum-senyum sembari membantah pernyataan dari kak alam. 

Setelah berapa lama kami akhirnya sampai di rumah kak sophie, kak alam pun langsung mengajakku ke kamar adik iparya yang pada saat itu sementara tertidur. Perasaan tidak enak pun timbul dalam hati saya. Akan tetapi kak alam mengatakan santai saja anggap saja keluarga. Setelah basa-basi kak alam sama saya dan adik iparnya itu, ia pun langsung pergi untuk beristirahat di kamar bawah bersama dengan istrinya. Sedangkan saya merasa canggung dan tak tahu mau memulai bilang apa untuk membahas membuka obrolan dengan adik ipar nya ini. 

Saya pun duduk diam di atas kursi kantoran sembara mengisi daya handphone saya dan membaca suatu artikel yang di editori oleh bapak KH. Abdurrahman Wahid yang berjudul Ilusi Negara Islam. Dengan perasaan dingin saya hanya tetap berdiam menunggu momen untuk mengajak nya bicara terlebih dahulu. Pada akhirnya moment tersebut datang, dia pun datang dengan membawa seprei baru dengan niat mengganti seprei yang lama. Saya pun mengajaknya dan bertanya “ini mau di apakan?.” Dia pun menjawab  “saya mo ganti sepreinya soalnya tidak enak menjamu tamu dengan seprei yang lama”. Saya pun berkata  “ah biasa saja nda usah repot-repot, dan di jawabnya tidak apa kak”, dan pada akhirnya akupun membantunya. Setelah kain seprei nya sudah kami ganti, ia pun mengambil sapu dan membersihkan kamarnya. Selepas itu iapun keluar  dari kamar tersebut, saya kira hanya sekadar mengembalikan sapu yang di ambilnya di luar akan tetapi ia tak kembali lagi. Saya pun bertanya-tanya dan kembali merasa tak enak hati. Sebab baru kali ini saya merasa di perlakukan sebagai seorang raja. 

Sekian lama saya menunggu ia tetap tak kunjung datang, mataku pun mulai berat dan serasa kecapean membaca artikel yang ada di Handponeku, dan pada akhirnya aku pun berbaring di atas kasur yang empuk dan tertidur. Disaat aku terbangun aku waktu telah menunjukkan 17.30, akupun segera menghubungi kak Alam melalui via chat wa, untuk mengingatkan bahwa ada undangan silaturahmi dari kak Dian Hilliyataul Jannah akan tetapi tak ada balasan. Berulang kali ku telepon akan tetapi tidak juga ada balasan atau jawaban darinya. Dalam hatiku berkata pasti kak alam tertidur. 

Untuk memastikan dugaan ku aku pun bergegas ke lantai bawah, dan ternyata benar pintu kamarnya tertutup menandakan dia sedang tertidur. Berbagai cara pun ku lakukan sampai aku nekat mengetuk pintu kamarnya tapi memang tak ada balasan. Suara adzan pun berkumandang tapi tak kunjung bangun, dan ku coba sekali lagi untuk mengetuk pintu kamarnya dan pada akhirnya kak Alam pun membuka kamarnya. Bukan perihal tidak sopan akan tetapi saya cuman berusaha  menjadi Pemuda Bugis Makassar yang seutuh-nya. Sebab sebagai orang Makassar  jikalau sudah berjanji maka pantang untuk mengingkarinya.  

Setelah kak Alam keluar dari kamarnya, ia pun berkata kita selesaikan dulu manghrib ya baru pergi, dan saya pun mengiyakannya. Akan tetapi seketika kak Alam berubah pikiran, kak Alam seketika ingin pergi seketika itu, akan tetapi  saya mangatakan alangkah lebih baiknya kita selelsaikan Adzan saja dulu kalau begitu. Kak Alam pun menyetujuinya. 

Bersilaturahmi Ke Kediaman Kak Dian

Setelah adzan maghrib telah selasai, kami pun langsung jalan dan tak lupa berpamitan kepada kak sophie. Sekitar 15 menit perjalanan kami pun sampai di rumah kak Dian akan tetapi pintu pagarnya tertutup. Saya pun segera menelpon kak Dian memberitahukan bahwa saya sudah di depan. Akirnya kak Dian pun keluar dan membuka pintu. Seperti biasa disaat saya bertemu dengan nya dan kepada siapa saja pasti ia melemparkan senyumanan-Nya yang manis, oleh karena itu saya selalu memanggilnya dengan sapaan Kakak Manis. Ia pun mempersilahkan kami untuk masuk dan segera menikmati hidangan kue yang di ruangan tamu. Akan tetapi, saya meminta izin untuk berwudhu terlebih dahulu sebab ingin melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu sebelum mencicipi santap makan malam kami. 

Setelah saya melaksanakan sholat maghrib, saya dan teman-teman yang lain yang sama-sama dari Sulawesi-Selatan pun berbincang-bincang bersama sembari menunggu teman-teman lain yang belum datang. Setelah sekian lama kak Anwar pun datang, dan terdengar kabar kak Hasni dan Kak Anita tidak jadi datang. Sehingganya kami pun langsung menyerbu makanan yang telah di hidangkan. Ada berbagai jenis makanan, ada coto, buras daun, dan berbagai macam jenis makanan khas Sulawesi Selatan lain-Nya. Tak terlupakan Es Buah sebagai makanan penutupnya. 

Setelah kami menikmati santap malam yang di sedikan, kami pun melanjutkan ocehan kami yang sebelum sempat tertunda sebab panggilan untuk makan malam bersama. Berbagai hal kami bahas bersama dan terbagi  menjadi 2 kelompok,  kelompok perokok berada di luar dan non perokok berada di dalam rumah. Saya berada pada kedua kelompok tersebut, terkadang di kelompok perokok kadang juga kelompok yang bukan perokok. Di tengah-tengah pembicaraan kami, kak Dian yang juga merupakan mahasiswa kutu buku mengeluarkan sebagian kecil buku yang ia miliki dan memberikan kesempatan kepada kami untuk membaca tapi tidak untuk di pinjamkan. Bukan karena pelit tapi akupun tak tahu alasan utamanya apa. 

Tak terasa waktu sudah menunjukkan 21.45, kami pun meminta izin pamit sebab waktu sudah larut malam, dan tentunya kak dian beserta keluarga pastinya juga ingin beristirahat. Akan tetapi kak Anwar tiba-tiba pengen makan lagi sebab ia kembali lapar. Dan kami pun menegurnya sambil bercanda, akan tetapi ia tetap meminta agar menunggunya selesai makan terlebih dahulu, Kami pun menunggunya selesai makan. Sembari menunggunya selesai makan, saya dan kak Alam menunggu  sembari mnikmati se batang rokok. Setelah rokok kami berdua habis, kak  Anwar pun telah selasi makan. Kami pun duduk sejenak dan pada akhirnya berpamitan untuk kembali pulang. 

Saya balik dengan sahabat gusti, dan kak alam pulang dengan kak anwar. Saya sempat menegurnya dengan berkata, “seandainya motor itu bisa bicara pasti ia akan mengeluh dan berkata dia tak mau mengantar mereka berdua di karenakan badang mreka yang gemuk dan besar”. Sontak mereka pun tertawa, dan kami pun pulang bersama walaupun beda jalur. Dan pada Akhirnya Travelingku di hari raya di tutup dengan bercanda, makan bersama dengan teman seperantua dari sulawesi selatan yang di himpun dengan satu paguyuban skala Provinsi bernama Ikatan Pemuda Sulawesi Selatan. 
Thankz Jamuan-Nya Hari Ini kak Alam dan keluarga, kak Dian dan keluarga dan teman-teman IPSS lain nya yang sudah mau bergabung. 

Ke esokan harinya jum’at 14 mei 2021, tepat puku 04. 00 pagi saya terbangun dari tidur ku yang nyenyak. Seketika aku melihat jam dan sudah menunjukkan jam sekian, dan saya pun kaget di karenakan sudah hampir masuk waktu Imsak. Saya pun terburu-buru mengambil sebuah piring dan langsung menikmati santap sahurku. Ketika nasi di piring saya hampir habis, seketika saya terdiam kebingungan sembari berkata dalam hati “bukannya kemari sudah lebaran, kalau sudah lebaran itu berarti puasa sudah selesai”. Dengan mengucapkan istigfar perlahan ku habiskan nasiku dan selepas itu saya pun tertawa sendiri melihat tingkah konyolku ini. Sembari berkata belum tua saya sudah mulai pikun. Saya pun akhirnya mengambil handphone ku dan membaca salah satu PDF (Bacaan) yang ada di handphone sembari menunggu waktu subuh tiba. 

Tepat pukul 04.15 mesjid kompleks sudah mengumandangkan adzan, akan tetapi masjid di dekat kosan ku tetap saja hening, dan tak terdengar suara apa-apa. Aku pun bersiap-siap sembari menunggu pak muadzin untuk mengumandangkan adzan, setelah itu saya pun akan ke masjid (rencananya). Akan tetapi waktu sudah masuk 04.20 akan tetapi keadaan tetap saja sama, tak terdengar tanda-tanda orang yang akan adzan, pada kahirnya aku pun bergegas ke masjid dengan niat untuk melakukan adzan. Sebab dalam pikirku orang di sekitaran kompleks pun pasti menunggu sama seperti yang aku lakukan. Ku langkah kan lah kakiku sembari melantunkan sholwat dan beritigfar. 

Sesampainya saya di masjid, keadaan dari luar tampak sunyi dan menandakan belum ada jamaah yang datang, saya pun mencari kunci untuk membuka masjid tersebut. setelah saya menemukan kunci itu, saya pun bergegas menghampiri micropon untuk mengumandangkan adzan. Memasuki lafald “hayya Alal Sholah”, saya teringat bahwa saya belum berwudhu dan dengan niat dan modal keyakinan adzan  tetap saya lanjutkan hingga selesai. Setelah itu saya pun langsung keluar untuk berwudhu. 
Setelah saya mengmandangkan adzan, jemaah pun perlahan berdatangan satu per satu. dan pada akhirnya kami melaksanakan shalat subuh berjamaah. Saya pun di tawari untuk memimpin sholat berjamaah, akan tetapi saya menolak permintaan tersebut dengan senyuman dan berkata “saya sudah adzan dan iqomah, apa bapak tidak mau menikmati pahala memimpin shalat subuh yang begitu besar”. Pak iman pun berkata “ah kamu Daeng Bisa saja” sambil tersenyum. 

Selepas kami melaksanakan shalat subuh secara berjamaah, saya akhirnya kembali ke kosan untuk beristirhat di karenakan mengantuk. Sesampainya saya di kos tanpa mengganti pakaian ku, badan ku pun ku baringkan di atas kasur kapok yang senantiasa menjadi alas tidur ku dan senantiasa membuatku nyaman di setap tidurku, dan pada akhirnya saya pun tertidur dengan lelap. 

Pasiar Hari Kedua 

Sekitaran jam 09. Lewat saya pun terbangun di karenakan gigitan nyamuk yang membuat saya harus menampar pipi saya sendiri dan pada akhirnya saya pun terbangun. Seperti biasa di saat saya terbangun, hal pertama yang saya cari adalah Handphonku, bukan hal yang lain dan saya rasa hal yang sama pun di lakukan oleh semua kalang generasi muda saat ini. Tujuan nya untuk melihat jam dan memeriksa apakah ada pesan atau telepon yang masuk di via Whatsaap saya yang bisa saja itu penting sehingga mereka menghubungi saya. 

Dengan muka kusut saya pun memeriksa handphonku dan membuka Whatsaap saya, dan ternyata dugaan ku benar ada banyak caht yang mengucapkan minal Aidin Wal Faizin serta beberapa chat wa Gruop Yang ribut perihal kunjungan bersilaturahmi ke rumah mereka. Ada banya ajakan seperti : gruop alumni SDN angkatan 2012, Forum Ikatan Mahasiswa Jeneponto, Ikatan Pemuda Sulawesi Selatan, dan bahkan Gruop kelas. Bahkan ada yang langsung menghubungiku secara pribadi untuk bersam-sama berkunjung kerumah teman-teman yang ada di Gorontalo yakni gadis paling terkecil yang ada di kelas kami, Cicilia Lamadenreng. 

Ia menghubungi saya dan mengajak untuk berkunjung ke rumah salah satu teman kelas yang ada di Bone Bolango sana yang bernama melisa Nuraini tetapi kerap di sapa Gobel di lingkungan kampus tapi di sapa Ica di saat di rumah. Tak usah heran kenapa bisa demikian, saya pun heran dengan teman kelas ku yang satu ini. Saya pun menerima ajakan tersebut akan tetapi, kita harus berkunjug ke teman yang dekat dulu yakni sintia dan rahmat ucapku dalam via chat, Cici pun bersepakat. Akan tetapi ia meminta ku untuk menghubungi mereka terlebih dahulu, agar ia bisa menyiapkan makanan yang besar dan kue yang banyak, dan saya pun berkata, nampaknya kita satu server melalui balasan chat saya dengan nya sembari mengirim emot tertawa. 

Pada akhrinya saya pun menghubungi  sintia dan rahmat, akan tetapi saya tidak mendapat balasan dari rahmat. pikirku ia masih sibuk dengan keluarganya. Sedangkan sintia pun merespon chat saya. Kurang lebih seperti ini caht say dengan nya : 
‘’Assalamu Alaikum Tia,  ia pun menjawab wa  alaikum salam ya,” belum ku jawab caht kedua darinya masuk dan berkata “datang kamari kerumah uti” dan saya pun membalasnya dengan emot ketawa dan berkata “ah gaga pas itu, memang itu yang saya maksud, mo ba bilang kalau saya mau datang kesana denga cici dan kak sandi mo ba kase habis kue sekalian ba bungkus” dan saya tutup dengan emot ketawa lagi.  Ia pun berkata “iyyo datang jo”. Setelah itu saya pun menghubungi cici bahwa dengan tujuan kalau saya sudah memberitahukan ke sintia jikalau kami akan datang ke rumahnya. 

Setalah saya menghubungi cici, kami berdua pun bersuara di gruop kelas bahwasanya kami akan pasiar (berkunjung) ke rumah nya sintia. Kami berdua pun mengajak kepada teman-teman yang masih di kota atau pun yang sudah di kota agar kiranya bisa bersilaturahmi bersama ke rumahnya sintia. Akan tetapi, tidak ada yang  bisa datang selai saya dan cici serta kak sandi. Bukan lah hal yang mengherankan, sebab itu pun masih dalam suasana Idul Fitrih dan waktu berkunjung kepada sesama sanak saudara dan keluarga, sehingga-Nya kami pun tak bisa memaksakan mereka. 

Pasiar Kerumah Sintia 

14.30 saya pun menghubungi cici kembali, memberi tahukan bahwa sya sementara siap-siap dan memintanya ia pun segera bersiap-siap. Ternyata, dia dan kak sandi sudah sementara dalam perjalanan menuju kediaman sintia, saya pun bersiap-siap untuk menyusul mereka. 
15.00 (perkiraanku) saya pun sampai di rumahnya sintia. Dari luar saya tertawa melihat mereka berdua sudah duduk manis (layaknya tamu istimewa yang menunggu hidangan yang di persiapkan). 

Kalimat salam pun saya lontarkan kepada mereka sebagai ucapan terindah untuknya mereka bertiga (sintia,cici,dan kak sandi), dan ku susul dengan kalimat “Minal Aidin Wal Faizin dan setersunya” sembari ku sodorkan tanganku sebagai permohonan maaf untuk kepada mereka atas dosa dan khilaf yang pernah saya lakukan pada mereka. Begitupun dengan mereka.
Setelah kami bermaaf-mafan, kami pun memulai berbincang bersama sembari di temani beberapa sprite  dan  toples kue yang isinya pun berbeda-beda dan menarik perhatian, yang membuat perbincangan kami menjadi seru dan menarik. Di tengah-tengah perbincangan kami, ada satu hal yang menarik dan membuat saya bertanya-tanya, yakni setiap saat toples kue harus di tutup (setelah mengambil kue di tutup kembali, nanti mau ambil baru di buka kembali). 
Beda dengan kebiasaan saya di kampung di saat ada tamu yang datang sontak penghuni rumah membuka semua toples kue nya dan di tutup nanti di saat tamu yang berkunjug semua pulang. Tapi aku tak berani menegur hal tersebut, dalam hatiku berkata “mungkin ini kebiasaan dari keluarga mereka”.

Banyak hal yang kami diskusikan terutama mengenai dengan Trans Gender. Hal ini menjadi pembahasan yang sangat menarik, sebab ada beberapa orang teman saya yang mengalami hal tersebut ( Lesbian). Kami berdiskusi (saya,cici,sintia dan kak sandi), dan bertanya-tanya apa yang membuat mereka sehingga rela menjadi seperti itu, serta bagaiamana cara menyadarkan mereka jikalau jalan yang mereka tempuh itu salah. Salah seorang teman saya mengatakan bahwa ada banyak faktor yang membuat mereka hingga menjadi demikian salah satunya mereka sudah tidak punya hasrat seksual terhadap lawan jenis, dan bahkan berkata mereka menjadi demikian sebab mereka banyak di sakiti oleh kaum lelaki, sehingganya mereka lebih memiliki daya tarik terhadap sesama jenis dari pada lawan jenisnya.  Saya pun bertanya-tanya dalam hati apakah semua ini harus disalahkan kepada laki-laki atau bagaimana??. 

Sebab perbincangan kami begitu serius, kami tak merasa bahwa sudah menunjukkan waktu maghrib, sehingga kami hendak pamit diri untuk kembali ke kediaman kami masing-masing. Akan tetapi, kami bertiga di minta untuk bersantap malam di rumahnya sintia sebab, Ma Tia sudah memasak masakan yang enak dan di suguhkan kepada kami. Saya pun tak bisa menolak, sebab itu adalah rejeki dan ajakan yang baik, maka saya, kak sandi dan cici pun langsung menuju ruang makan tanpa basa basi. Di saat menyantap makanan enak itu, saya pun sempat berkata “so lama kita tidak makan di sini e dengan teman-teman kelas D, kira-kira waktu yang kemarin masih bisa mo ulang atau tidak e??’’. Sintia “ nanti insya Allah mo ulang dengan dorang a”. 

Setelah saya makan, saya langsung berwudhu dan melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu selepas itu saya duduk di teras sembari menikmati sebatang rokok. Rokok tersebut perlahan ku isap dan ku hembuskan dan setiap hisapan dan hembusan ku nikmati sembari berfikir kapan saya menjadi orang yang sukses. 
Setelah rokok tersebut habis saya pun berpamitan kepada teman-teman dan keluarga sintia, dan ternyata cici dan kak sandi pun sudah berencana balik.  Sehingga kamipun balik bersama-sama dan berniat besok melanjutkan Pasiar kami ke beberapa rumah teman dan salah seorang dosen yang kami dan Pasiar Saya pada hari itupun berakhir. 

Pasiar Di Hari Ke Tiga 

Pasiar ke Rumah Sahabat Galang

Ke- Esokan Harinya sabtu 15 Mei 2021 saya melanjutkan pasiarku ke beberapa tempat. Sebab malam-Nya saya mendapatkan undangan via chat dari sahabat galang patilima dan beberapa teman-teman yang lain-Nya,  sehingganya saya pun tak menyia-nyiakan waktu yang ada. Rumah pertama yang saya kunjungi ialah rumah salah seorang kawan di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yakni Sahabat Galang Patilima. Sebelum kesana, saya pun hendak menghubungi-Nya terdahulu takutnya ia tidak berada di tempat. Setelah saya menghubungi-Nya ia pun dengan nada suara yang bersemangat berkata “Datang kamari uti, sendiri kita di sini tidak ada teman akan, semua keluarga ada pergi” (saya lupa pergi kemana, yang jelas ia hanya sendiri di rumah-Nya).  

Sesamapainya saya di sana, saya pun disambut dengan hangat olehnya. Ia berkata “Untung baik ngana datang, soalnya kita suntuk di rumah aba asli, tidak tahu mo bekeng apa, tidak ada teman diskusi sup” (dengan ekspresi muka serius akan tetapi dengan nada suara yang bercanda). Saya pun membalas dengan tersenyum sembari berkata “ Kinapa olo ngana tidak ikut dank”, ( sembari mneghampirinya ), dan iapun membalas dengan berkata, “tidak sih, cuman malas pergi jauh saja”, (sembari berjabat tangan dan bermaaf-maafan). 
Setelah kedatangan ku di sambut dengan begitu hangat dan beberapa dialog pembuka, iapun menuju ke salah satu kamar yang ada di dalam rumahnya lalu keluar sembari mengeluarkan 2 botol minuman dan beberap toples kue. Saya pun langsung memuji dan berbasa-basi sembari berkata “eh biasa jo tidak usah repot-repot”, (sembari membuka sebotol Coca-Cola).  Melihat tingkah ku yang konyol, galang pun tertawa dan membuka pembicaraan baru dengan melontarkan beberapa pertanyaan, salah satunya perihal rayon yang saya pimpin, dan pertanyaan itu pun saya jawab dengan kata “ Alhamdulillah Aman Le” (sambil tersenyum). Ia pun membalas “aman e, tidak sulit kalau begitu?” sembari tersenyum. Saya pun berakata, “bukan tidak sulit juga, cuman sebagai ketua Rayon Nani Wartabone, saya merasa itu adalah tantangan tersendiri bagi saya, bahkan saya merasa tanggung jawab bagi kami ketua rayon itu lebih besar dan sulit di bandingkan dengan ketua komsat, cabang dan bahkan PB sekalipun,”. 

Mendengar pernyataan saya Galang kaget dan bertanya, “apa yang melandasi ketua sehingga bisa berasumsi seperti itu?”. Saya pun menjawab, ya memang secara pemahaman meluas, semakin besar wilayah atau area yang kita pimpin pasti tanggung jawabnya pun semakin besar, akan tetapi menurut saya tidak selamanya, salah satunya di jenjang kepengurusan yang ada di PMII sendiri. 

Ya saya berasumsi demikian sebab, ada beberapa argumentasi saya yang dimana dapat memperkuat asumsi saya tadi, diantaranya berbicara tentang Kaderisasi di ruang lingkup PMII. Pada hakikatnya  kaderisasi itu lahir di ruang lingkup Rayon, sehingganya proses pembentukan bagi kader-kader PMII itu merupakan tanggung jawab besar bagi setiap  rayon. Bahkan saya merasa proses pembentukan inilah yang menjadi masalah utama bagi kaderisasi baik itu pembentukan mental, intelktual, dan membentuk kader-kader yang mampu mengimplematsikan prinsip-prinsip Aswaja. Mengapa saya mengatakan ini sangat penting, sebab banyak kader PMII yang hanya bermodalkan MAPABA tanpa ada proses pembentukan tadi, sehingga menyebabkan banyak kader-kader PMII yang menyandang julukan Kader Lepas.  

Dari asumsi yang saya sampaikan, sahabat Galang juga menambahkan dan berkata “saat ini PMII pun krisis Identitas”,  jadi jangan heran jikalau dinamika di PMII baik skala komisariat pun itu ada dan perlahan bermunculan diantaranya Komsat UNG dan Wahid Hasyim sendiri. Intinya pertemuanku dengan sahabat Galang banyak berbicara tentang PMII itu sendiri, salah satunya dengan mengusungkan untuk bersama-sama membangun nalar kader-kader PMII yang diawali dari rayon ataupun komisariat masing-masing. 

Tak terasa waktu menunjukkan 15.30 saya harus pamit dan meninggalkan sahabat Galang, sebab harus memenuhi undangan dari teman kelas yang mengajak untuk pasiar juga kerumahnya dengan teman sekelas yang masih ataupun sudah berada di Kota Gorontalo. Akan tetapi saya sholat asar terlebih dahulu baru kerumah teman saya, sebab di depan rumah sahabat Galang ada sebuah bangunan masjid. 

Pasiar Ke Kediaman Rahmat

Selepas saya sholat, saya pun bergegas menuju ke rumah Rahmat (rumah yang saya maksud tadi). Di perjalanan saya sembari menyetir motor sayapun bersuara di gruop kelas bahwa saya sementara di perjalanan menuju Rahmat, sekaligus memberi tahu ke Rahmat untuk memperisiapkan kue yang enak dan pastinya saya akan bungkus. Sekitar 10 menit kemudian saya pun telah sampai di rumah Rahmat, dan saya pun menelpon rahmat untuk memberitahukan bahwa saya sudah ada di depan rumahnya. 

Setelah saya menelpon Rahmat ia pun keluar dan berkata “Nga Bilang tidak mo datang, jadi kita sampaikan olo pa kita pe mama bilang dorang tidak mo datang kamari jadi kita pe mama tida ba masak banyak”. Saya pun berkata, “tidak apa, bukan makanan yang menjadi tujuan pertama saya kemari, melainkan saya hanya ingin bersilaturahmi dengan Rahmat dan keluarga, dan tujuan kedua makan kue dan bungkus” (sambil tertawa). 

Tak lama kemudian, satu persatu penghuni kelas D pun bermunculan, dan dengan perasaan senang dan bahagia kami pun bermaaf-maafan dari segala kekhilafan dan kesengajaan. Setelah itu kami pun bertemu dengan mama Rahmat untuk bersalaman dan beliaupun mempersilahkan untuk menikmati kue yang di hidangkan diatas meja.  Kejadian yang sama pun terjadi, yakni pemandangan tutup toples yang sama halnya terjadi di rumah sintia di saat saya berkunjung ke sana. Akan tetapi kembali saya menahan rasa keingin tahuan ku  perihal mengapa tutup toples kue tidak di biarkan terbuka saja di saat masih ada tamu?. 

Pada akhirnya kami pun melanjutkan perbincangan kami serta saling bertanya-tanya habis ini kerumah siapa lagi. Salah seorang teman pun berkata “kerumah Gobel Jo”, dan pada akhrinya kami pun bersepakat.  Di tengah perbincangan kami yang seru, ibu Rahmat datang dan memotong perbincangan kami sembari membagi-bagikan amplop yang didalamnya berisi uang. Bagi masyarakat Gorontalo mereka biasa menyebutnya dengan pembagian Zakati, dan hal yang serupa pun dilakukan oleh Ma Sintia di kala saya, Cici dan kak Sandi berkunjung kamrin ke rumah Sintia.  

Setelah kami diberi zakati oleh ma Rahmat kami pun seketika juga berpamitan untuk menuju rumah Melisa Nuraini atau kerap di panggil Gobel oleh kalangan Mahasiswa. Saya pun tidak tahu kenapa tapi saya tidak terlalu menggubrisnya, bagi saya itu adalah sebuah implementasi dari kata Kebabasan.  Dan tak berlama-lama kami pun langsung bergegas ke rumah Gobel. Perjalanan dari Rahmat ke Gobel memakan waktu kurang lebih 30 menit. Akan tetapi sebelum ke rumah Gobel, kami hendak menuju rumah Sintia untuk menjemputnya terlebih dahulu. Sebebnarnya dia tidak mau ikut dan hanya ingin nebeng sampai ketempat latihan.  Oh iyya sekedar info sintia ini Atlet Pomnas cabor Bulu Tangkis sahabat, keren ya. 

Akan tetapi kami bersih keras untuk mengajak nya untuk ikut bersama sehingga iapun ikut dan terpaksa untuk absen latihan bermain Bulu Tangkis sebab kami pun berkata bahwa kami akan pasiar ke rumah Prof. Aisyah, dan dibantu oleh bujukan ibunya ia pun luluh dan ikut dengan kami. Ia pun lekas mengganti pakaian. 

Setelah ia mengganti pakaiannya, kami pun berpamitan dan hendak melanjutkan perjalanan ke rumah Gobel. Perjalanan menuju rumah gobel cukup kami nikmati, sebab di temani dengan alunan musik yang cukup asyik menurut kami sehinggga kami pun sempat bernyanyi bersama. Tak terasa kami pun tiba di rumah gobel, dan bertepatan dengan waktu maghrib. Sembari teman-teman cewek beristirahat kami pun para pria hendak melakukan sholat maghrib terlebih dahulu. 

Setelah kami melaksanakan sholat magrib secara berjamaah di masjid depan rumah Gobel,  Rahmat dan Gobel keluar sejenak untuk membeli geprek untuk kami makan bersama. Kurang lebih hampir 20 menit ia pergi, iapun pada akhirnya sampai juga. karena kami sudah kelaparan kami pun segera menyantap geprek tersebut. Akan tetapi karena rasa lapar yang tak kunjung kami tahan, kami melupakan sesuatu yaitu tidak ada Air Minum. 

Satu sisi Gobel pun belum sampai juga dari indomaret yang memang tujuannya pergi untuk membeli air minum. Dan kami pun berusaha menahan pedasnya sambel geprek ala Gorontalo itu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Gobel pun sampai membawa 2 botol teh pucuk harum yang besar dan dingin. Sontak semua pun berlomba untuk minum lebih awal agar rasa haus dan pedas bisa di hilangkan. 

Setelah kami menyelesaikan makan kami, kami sejenak berbincang-bincang kembali sembari menunggu waktu isya selesai dan rencana melanjutkan perjalan ke rumah Prof Aisyah. Ringkas cerita, waktu isya pun kelar dan kamipun berpamitan kepada gobel dan orang tuanya. Pada akhirnya kami pun melanjutkan perjalan menuju prof aisyah. 

Pasiar Ke Kediaman Prof Aisyah 

Perjalanan menuju kerumah beliau hampir sama dengan perjalanan dari rumah Rahmat menuju rumah Gobel.  Seperti biasa agar perjalanan kami tidak terasa suntuk dan bisa menjadi menyenangkan, pastinya alunan musik pun menemani perjalanan kami. Dan tak lama kemudian kami pun sampai di rumah beliau.  

Setalah Rahmat memarrkirkan mobilnya dengan tertib dan baik, kami pun bersama-sama untuk mengucapkan salam dan setelah di jawab dan dipersilahkan untuk masuk kami pun masuk bersama-sama dan langsung bersalaman sembari  mengucapkan “Minal Aidin Wal Faizin” kepada prof Aisyah yang saat itu lagi santai sembari menonton televisi.  

Selepas itu kami mengobrol santai sejenak sembari menanyakan kabar beliau, sebab beliau juga pernah masuk rumah sakit dan belum sampat  menjeguk selama setelah keluar dari rumah sakit sebab sibuknya  proses perkuliahan. Sehingganya kami baru bisa menyempatkan diri untuk datang berkunjung bersilaturhami sekaligus menjenguk beliau.  

Banyak hal kami diskusikan dengan beliau,  termasuk perihal dinamika yang terjadi saat ini didalam ruang lingkup kampus khususnya pada prodi Penjaskesrek. Beliau dengan santainya menanggapi dan berkata “so bagitu fajar, dinamika dalam segala hal itu perlu, kecil besar nya dinamika yang terjadi yang paling penting adalah hikmah yang dapat kita petik dari dinamika tersebut”. 

Banyak hal yang kami pertanyakan kepada beliau, dan hal tersebut membuat diskusi kami dengan beliau semakin enak, mana lagi kami di temani dengan beberapa cangkir teh hangat dan toples kue yang dimana isinya bermacam. Dari diskusi yang kami bangun dengan beliau, saya pun pada akhirnya menemukan jawaban kenapa toples kue harus tetap di tutup walaupun masih ada tamu, dan nanti dibuka di saat mau mengambil kue kembali. 

Jawaban itu saya dapatkan di saat saya sengaja mengambil sebiji kue dan sengaja membuka tutup toples tersebut, dan sontak ibu meminta agar kiranya setelah saya mengambil kue toples hendak di tutup agar kiranya kue yang ada di dalamnya tetap terjaga, baik dari semut, lalat dan lain sebagainya. Mendengar jawaban itu saya hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalaku pertanda  saya pun mengatahui jawaban dari pertanyaan perihal misteri tutup toples. 

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 menit dan kami pun berencanan berpamitan bersama sebab waktu sudah mulai larut malam, tidak enak bertamu sampai selarut malam itu, apalagi beliau yang masih membutuhkan waktu istirahat yang banyak. Pada akhirnya kami pun berpamitan dan lanjut mengantar sintia lalu ke rahmat untuk mengambil kendaraan kami semua. 

 ini pun menjadi akhir perjalanan ku dan menjadi pengalaman  pasiar saya di momuntem hari raya idul fitri yang perdana sekali selama kurang lebih hampir 3 tahun di Gorontalo. Untuk mengingat dan mengenang momentum  ini saya pun berniat untuk menulisnya dalam bentuk cerita saya dan kawan-kawan.  Saya berharap ini bukan yang pertama dan kemudian menjadi yang terakhir. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Torang Bekeng Bae’” Bukan Sekadar Slogan: Kritik atas Pembatasan Keterlibatan Kaum Waria dalam Perayaan Kemerdekaan

Grand Line Pendidikan: Menemukan ‘One Piece’ dalam Dunia Belajar"

I Makdi Daeng Ri Makka: Sosok Calon Raja Yang Terlupakan