I Makdi Daeng Ri Makka: Sosok Calon Raja Yang Terlupakan
Sekitar abad ke 13-14 Masehi terdapat kisah Robin Hood. Robin Hood merupakan tokoh dalam cerita rakyat Inggris, yang merupakan seorang bangsawan yang menjadi musuh Sherf Of Nottingham atau kerap di kenal dengan nama Prince John. Dimana Robin Hood melawan pejabat yang korupsi demi untuk kepentigan rakyat Inggris. Ia memimpin 140 orang yang di sebut “ Merry Men”. Kisah tragis sang Robin Hood ini banyak di temukan di seluruh Manca Negara hingga di Sulawesi. Jikalu di tarik pada budaya Sinrilik, kisah yang hampir sama pun bisa kita temukan di salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu Kabupaten Jeneponto, Kecamatan Tamalatea, Kelurahan Tonro kassi, maka terdengar nama I Makdi Daeng Ri Makka.
Di Jeneponto ia adalah pahlawan yang dihormati dan di segani pada masanya, sejarah panjang I Makdi Daeng Rimakka yang penuh kontroversi dan pertentangan. Ketokohan I Makdi daeng ri Makka melalui kisah-kisah bagi kalangan kaum tua ( kelahiran 70 an ) masih mengenal sosok I Makdi Daeng Ri Makka. Akan tetapi bedanya masyarakat saat ini karena kisah-kisah seperti ini seakan-akan hanya cocok untuk di pertunjukkan pada panggung-panggung teater saja, sehingga kalangan pemuda saat ini tidak tahu bagaimana cerita perjalanan I Makdik dan bahkan tidak mengenalnya. Padahal jikalau kita membaca sejarah, I Makdi Daeng Ri Makka ini banyak mengandung prinsip-prinsip, berupa pesan-pesan yang kemudian masih sangat relevan sampai saat ini.
Akan tetapi dalam hal ini justru banyak yang tidak paham kisah perjuangan I Makdi Daeng Ri Makka. sehingga banyak yang menggangap bahwa sosok beliau merupakan sosok penghianat bagi keluarganya (karaeng Ballaco Bonto Tannga). Jikalau kita menelusuri kisah heroik I Makdi, beliau sebenarnya seorang pahlawan. Beliau memiki nilai heroism, yang seharusnya bisa di wariskan. Akan tetapi, dalam beberapa hal kisah sang pahlawan ini tidak banyak ditulis bahkan bisa dikatakan di hilangkan sejarahanya.
Jasa I Makdik bagi Kerajaan Bone
Berbicara tentang ke ahlian, beliau pun sebenarnya tidak kalah dengan para tokoh-tokoh heroik lainnya, seperti Macanga Ri Tello, Sombayya ri Gowa dan lain-lain. Selain itu I Makdik juga sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Turatea waktu itu.
Beliau mulai di kenal ketika Belanda menyerang kerajaan Bone yang terancam akan kalah. Maka di utus lah seseorang untuk mencari Tu Barani (seorang Pemberani) ke tanah Binamu. Sehingganya Raja Binamu pun mengutus I Makdi Daeng Ri Makka. Hingga pada suatu ketika iapun dan para pasukannya berangkat menuju kerajaan Bone guna membantu kerajaan Bone melawan Belanda, pada akhirnya mereka pun berhasil memukul mundur pasukan Belanda pada kala itu. Pada akhirnya kemenangan pun berada di pihak kerajaan Bone (Arung Palakka).
Saat itu, Arung Palakka penasaran meskipun sebenarnya sudah ada kabar terdengar bahwa di Binamu ada seorang jagoan yang bernama “ I Makdi DaengRi Makka ” dan bergelar “Katimbang Lakina Balandangan, Burakne Tenang Teayya, Tanrinna Tau Loloa” ( Belalang Jantan dari Balandangan yang Gagah Berani dan di sukai Banyak Orang ) . Jauh sebelum perang itu Arung Palakka sudah mendengar keberanian dan kehebatan I Makdik. Kemudian di panggillah I Makdi duduk bersama Arung.
Di mana pada pertemuan itu, menurut kisah yang beredar di tengah masyarakat bahwa Arung Palakka berkata pada I Makdi agar tetap menjaga dirinya, sebab nantinya ia akan menjadi seorang raja di Binamu. “ Makdik Katutui kalennu, laku parekko sallang belo-belo ri binamu ( Raja Binamu Ke VII) ”.
Tuduhan kepada Makdik
Mendengar ucapan dari Arung Palakka tersebut, kedua orang saudara ( Tiri ) nya yakni “ I Manja Daeng Mannyarang dan I Rambu Daeng Ri Moncong ” tidak bersepakat. Ia menduga dengan perkataan itu bahwa sebentar lagi I Makdi akan mendapatkan dukungan besar dari Bone untuk menjadi raja di Binamu. Ternyata sebenarnya kedua saudaranya ini juga berambisi untuk menjadi Raja di Binamu.
Di sisi lain, kekalahan Belanda terdengar se-Antero Sulawesi. Sehingganya pihak Belanda mencari tahu bagaimana caranya untuk menghancurkan I Makdi Daeng Ri Makka. Hingga pada Akhirnya bertemulah I Rambu dan I Manja dengan Belanda. Karena mereka bertiga saling memiliki kepentingan, Belanda ingin menguasai wilayah, sedangkan Kedua saudaranya Makdi punya kepentingan dalam perebutan kekuasaan (menjadi Raja Binamu). Dari pertemuan itu, mereka pun merancang konspirasi untuk menjebak dan menjatuhkan I Makdik.
Kebetulan pada waktu itu Karaeng Ballaco Bonto Tangnga yang juga merupakan paman dari I Makdik, sebentar lagi akan melaksanakan pesta pernikahan putrinya. Belanda pun pada akhirnya memerintahkan kepada I Manja da I Rambu untuk mencuri kerbau dan kuda yang nantinya akan di sembelih guna sebagai jamuan dipesta pernikahan nanti.
Pada akhirnya terdengarlah berita bahwa kerbau dan kuda persiapan pesta karaeng Bonto Tangnga hilang di curi orang. Di sisi lain Rambu dan Manja pun bersembunyi. Sedangkan karaeng Bonto Tangnga pun tidak terima dan marah. Hingga karaeng Ballaco Bonto tangnga naik pitam dan heran sembari Bertanya-tanya, siapa yang berani melakukan hal demikian, ia merasa di buat malu akan peristiwa tersebut. Hingga pada akhirnya terpetiklah di pikiran nya bahwa "Tidak ada orang yang membangun hubungan baik kepada satu kelompok yang di namakan Pagorra Patampuloa ( Perampok 40 ) kecuali I Makdik itu sendiri ." Pagorra 40 sendiri di kalangan masyarakat mengatakan bahwa mereka merupakan kelompok pencuri yang berjumlah 40 orang atau lebih. Sehingganya di kalangan masyarakat luas jikalau ada perkumpulan yang banyak maka di katakan 40 atau lebih.
Sehingga Karaeng Bonto Tangnga berpendapat bahwa pastilah ada sepengetahuan I Makdik dengan peristiwa pencurian tersebut. Sehingganya di temui lah keluarga Makdi, yaitu : I Rambu dan I Manjak. Mereka berdua di introgasi akan peristiwa pencurian tersebut. Mereka berdua pun menjelaskan sesuai dengan intruksi Belanda. Sehingga di saat ia di tanya ia pun jujur dan menuduh bahwa I Makdik lah yang menyuruh saya untuk mencuri kerbau dan kuda tersebut.
Sehingga di kirim lah Utusan ke rumahnya I Makdi di Balandangan. Sesampainya utusan tersebut ia tidak bertanya akan tetapi langsung menuduh, dengan berkata " O Makdik Kamu harus mengembalikan Kerbau dan Kuda milik I Ballaco Bonto Tangnga yang kamu curi ". Waktu Itu I Makdi geleng-geleng kepala sembari tertawa, dan Makdik pun bertanya " Maksudnya ini apa, saya tidak tahu menahu tentang hilang nya kuda dan kerbau milik beliau ". Karena tuduhan tersebut, I Makdi pun berkata kepada Utusan Karaeng I Ballaco Bonto Tangnga untuk menyampaikan pesan dari I Makdi kepada beliau " E Suro Pauanggi purinangku Karaeng I Ballaco Bonto Tangnga, Erokangngangi Si Bakjia dari pada laku ani ka teai gaukku " (Sampaikan kepada pamanku Karaeng Bonto Tangnga, I Makdi lebih memilih berkelahi di banding mengakui perbuatan yang tidak ia lakukan).
Pada akhirnya ia pun (Utusan) kembali kepada Karaeng Bonto Tangnga, sesampainya ke Karaeng Bonto Tangnga, ia tidak mengatakan bahwa bukan I Makdi yang mengambil, akan tetapi langsung ia sampaikan bahwa : " lebih ingin katanya berkelahi dibanding di kembalikan kerbau dan kuda yang telah hilang ". Sehingga Karaeng Bonto Tangnga pun kaget " Anngapa na pallak kamma kamanakangku, Na paka Siri' ka antu kamanakangku, na Anne pakgaukang ku biring mi ( sampai hati keponakan ku berkata demikian, dia sudah membuat malu saya sebab pesta sebentar lagi akan di laksanakan) . Baiklah saya akan ke Balandangan untuk menemui I Makdik, untuk menanyakan langsung apa maunya sebenarnya ( ucapan Karaeng Bonto Tangnga).
Ke Esokan Harinya datang lah Karaeng Bonto Tangnga ke kediaman I Makdi, dan bekata:
Karaeng Bonto Tangnga : " Assalamu'alaikum niak jako Makdi ( apakah kamu ada Makdi) ?
I Makdi : WA Alaikum salam, Iyye Niakja Karaeng ( Iyye saya ada Karaeng). Maeki purina ( Sini paman).
Karaeng Bonto Tangnga : Iyyo nak, niak parallu ku Anne (saya punya keperluan sama kamu). Anjo Tedong siagang Jarang nu lukka kak poterangi, ( kerbau dan kuda yang kamu curi, kamu harus kembalikan).
Mendengar tuduhan itu, I Makdik pun merasa kaget dan sangat di pojokkan dan di permalukan.
I Makdik pun berkata : " Pinruang ni pakasirikma Karaeng, tea Gaukku ni suroa pole Anynyambaei, Erokangnganga si Bakjia ka tea Gaukku " ( sudah kedua kalinya saya di permalukan Karaeng, buka saya yang melakukan malah saya lagi yang disuruh menggantinya, kalau begitu saya lebih baik berkelahi atas tuduhan yang tidak saya lakukan )
Karaeng Bonto Tangnga: " bajik mi Makdik, Luara ji paranga iraya, iraya paki sallang akjarrek-jarreka bukkuleng, attarrang-tarangngang kalewang, attarrang-tarangngang Badik". ( Baiklah Makdik, mumpung parang juga luas, nanti di sana kita lihat kulit siapa yang lebih kebal, pedang dan badik siapa yang lebih Tajam).
Setelah perdebatan itu, Karaeng Bonto Tangnga pun kembali.
Satu sisi di malam hari, di saat I Makdik dan Mulli daeng masayang ( Istri dari I Makdi daeng Ri makka) sedang berdiskusi, Mulli daeng masayang merasa gusar dan berkata kepada I Makdi daeng Ri Makka : " lompo I bata-bataku, niaki ri atingku, ( saya mencurigai ini ada hubungannya dengan perbuatan I Rambu dan I Manjak). Coba kita tanya sama mereka berdua.
I Makdi pun berkata : " Oh iyya, saya pun tahu karakter mereka berdua "
Pada akhirnya mereka berdua pun dicari, dan di temukan lalu di introgasi. I Makdi pun berkata : " Tekammai pangngissennu kalangnyakkanna Tedong siagang jarang na Karaeng Ballaco Bonto Tangnga? ( bagaimana pengetahuanmu perihal peristiwa pencurian kerbau dan kuda milik Karaeng Bonto Tangnga). Maka I Rambu dan I Manja berkata : " Iyye, Kami Berdua yang mengambil nya ".
Pada saat yang bersamaan ternyata, ada utusan dari Karaeng Bonto Tangnga yang kembali dan menguping pembicaraan mereka bertiga, tanpa di saring lebih mendalam lagi utusan ini pun kembali ke Karaeng Bonto Tangnga dan melaporkan bahwa memang benar I Makdi lah yang memerintah untuk mencuri kerbau dan kuda tersebut.
Utusan (suro): " Tiknokmi Karaeng, I Makdi tojeng assuro allaei Tedong siagang jarang lani paggaukanga". ( memang betul Karaeng, kalau ternyata I Makdi lah yang memerintah kan untuk mencuri kerbau dan kuda yang akan di hidangkan pada pesta pernikahan nanti).
" Si tabanga niak, na niak todong I Manjak siagang I Rambu amppattojengi ri maknasana kana ia tojeng angngallei Tedong siagang Jaranga ". ( ketika saya kembali, Bertepatan juga I Rambu dan I Manjak Hadir untuk mengakui bahwa mereka berdua lah yang mengambil kerbau dan kuda tersebut).
Mendengar pernyataan dari utusan tersebut, Karaeng Bonto Tangnga pun memerintah kepada utusan untuk kembali lagi ke kediaman I Makdi daeng Ri Makka untuk menyampaikan pesan dari pada Karaeng Bonto Tangnga yang mengatakan bahwa :
" O suro Ammoterekko naung, pauwangi I Makdi Kana tayangi bede ri tallu alloa Karaenga ri paranga ".
Pada akhirnya kembalilah utusan tersebut kepada Makdi dan berkata " Makdi saya datang kembali untuk menyampaikan pesan dari Karaeng Bonto Tangnga, tiga hari dari sekarang Karaeng menunggumu di parang panjang sebelah utara ”. I Makdi pun karena sudah merasa tidak di percayai dan terdesak maka ia pun menerima tantangan tersebut, dan berkata: "Bajik mi, Ammoterek mako naik ri purinangku pauwangi , tena antu na pakasirikki, tena taksi ambitta, " ( baiklah kalau begitu, kembali lah ke pamanku, sampai bahwa saya tidak akan membuat malu dan pasti kita akan bertarung).
Maka suro pun kembali ke Karaeng Bonto Tangnga, dan berkata " Na tayangki bede Karaeng ” ( ia pun menunggu kita Karaeng ). Maka kedua belah pihak pun bersiap-siap. Karaeng Bonto Tangnga berkata " Pasadia pasukanga, kalau ko allei jeknekna bungung baranina kalumpang, pa inungangi tu baraknea" ( persiapkan lah pasukan, dan ke selatan lah ambil air nya sumur barani nya kalumpang, dan suruh minum sama semua kaum laki-laki).
Kesetiakawanan I Makdik Daeng Ri Makka
Sisi lain I Makdi daeng Ri Makka pun melakukan konsolidasi kepada sahabat-sahabatnya, ada I Cakkiok Ri Manynyumbeng, I Lokmok Ri antang, I Hasan ri Sambung Jawa. Setelah itu ia pun bersemedi satu malam, dan di persiapkan pak jakjakkang passibakjiang, paruru pak gundukan. Ia bertapa dalam kelambu 7 lapis, yang di persiapkan oleh Bunda Karaeng dengan Mulli daeng masayang. Kemudian di pilihkan lah passapu ( senjata ) kesayangan nya I Makdi untuk pergi berperang. Di saat itu ia memilih sebuah pedang dan badik untuk menemaninya di medan pertempuran.
Sebelum berangkat dan pasukan sudah siap, mereka mengingat janji bersama para sahabat-sahabatnya ada I Cakkiok Ri Manynyumbeng, I Lokmok Ri antang, I Hasan ri Sambung Jawa. Ia berkata :
" Anne ka laklampaki as si bakji, tena niak bicara minro, teaki niakki illa ri ati kana lammoterek " ( Bilamana ada gugur salah satu di antara kita maka kita akan gugur bersama, Hidup bersama matipun bersama). Mereka mengingat janji.
Hasan Ri Sambung Jawa pun berkata :
" E Makdi bela- bela saingan ku, Inakke ammuno Anraik I kau Ammuno kalauk " Punna matea Makdi mate tongko, (Makdik di saat kita berperan nanti saya membunuh ke arah utara, dan kamu membunuh ke arah selatan, ingat kalau saya gugur makan kamupun harus gugur bersama saya).
I Makdi pun berkata: " Iyye saribbattang, kammapi Anne gauka na niak tak Langngerang bajitta ri Anak Ri boko. ( sudah seharusnya begitu, sebab dengan demikian kita tidak akan di anggap sebagai penghianat sama keturunan kita nantinya ).
Penuturan lain di kisahkan bahwa sadar perang pasti akan terjadi. Maka, I Maddi mengutus Jolo Daeng Mannilingi dan Sekke Daeng Manrokkai untuk menemui Raja Cina di Bontoala. Tujuannya agar Raja Cina tersebut bisa memberikan bantuan 8 buah baju besi, lamin 4 pasang, baju berantai 40 buah, dan senjata 12 pucuk lengkap dengan pelurunya.
Namun harapan I Maddi tidak terpenuhi. Bahkan kedua utusannya itu hanya membawa pesan dari Raja Cina, agar menghindari perang karena kedua belah pihak masih satu keluarga. Juga agar I Maddi rela memenuhi permintaan Karaeng Bontotangnga, karena itu memang kewajiban I Maddi Daeng Rimakka.
Mendengar pesan dari Raja Cina tersebut, I Maddi berkata sambil mengusap airmatanya, “ Aku malu jika rencana ini tidak diteruskan. Ibarat kuda, pelananya sudah terpasang. Telah kuputuskan apapun yang terjadi, akan aku pikul meskipun berat. ”
Setelah berkata demikian, I Maddi melangkah menemui pasukannya dan bertitah, “ Wahai pasukanku, bersiaplah menghadapi perang! Siapkan pula kudaku, Si Balo Dodong dari Balumbungang. ”
Maka mereka pun berangkat, sampai di medan pertempuran mereka pun bertarung, menurut penuturan masyarakat mereka bertarung 1 hari 1 malam. Hingga pada akhirnya I Hasan ri Sambung Jawa pun gugur dalam pertempuran, mengetahui hal tersebut semakin membabi butalah I Makdik sambil berkata " Tena mo ta Matengku, Mate tompa na bajik " ( Saya pun harus mati, karena jikalau saya mati itu lebih baik). Akan tetapi, karena I Makdik daeng Ri Makka adalah orang yang kebal sehingga ia tidak bisa di tusuk dan di lukai oleh benda tajam berjenis apapun.
Ia pun kembali ke rumah, kepada Istrinya, I Mulli daeng Masayang, dan Ia berkata : "Mulli Ammoterangi I Hasan ri Sambung Jawa, Mate tompa na bajik " ( Mulli, Yasang ri sambung Jawa telah gugur, oleh karena itu saya pun lebih baik mati ). Pada akhirnya Mulli pun menangis dan berkata " Teaki Karaeng Teaki, Laki bokoi a" ( Jangan pergi tinggalkan saya Karaeng), I Makdi Pun berkata " Mulli Tea a nakke Ni piassalak Ri anak tanjari " ( Saya tidak mau di cerita oleh keturunan-keturunan ku, bahwa saya ini penghianat ) . Kemudian Mulli pun menyadari itu, sehingganya berangkat lah I Makdi Kembali ke medan pertempuran. Sebelum ia berangkat ia pun membuka "Sikkok Ayakna / Talempang" ( pengikat Pinggang) . kemudian di berikan kepada Mulli daeng Masayang. Sikkok ayak/ atau Talempang orang dulu biasanya berisi jimat, baik untuk keberanian, kekebalan dan lain sebagainya.
Prinsip yang di pegang teguh oleh I Makdik daeng Ri Makka itu adalah " Ia Kana Ia Rupa Gauk " ( apa yang di katakan maka itulah yang dilakukan ). Mungkin prinsip seperti ini lah yg bisa menjadi pondasi buat kita dan para generasi muda ( Millennial ) Turatea. Sisi lain beliau pun memiliki prinsip keberanian yang sangat besar sehingganya jangan salah kalau keturunan - keturunanya pun memiliki sifat yang sama dan umumnya banyak orang Jeneponto yang bersifat demikian.
Sehingganya prinsip dan karakter orang Jeneponto itu tidak salah jikalau di katakan keras. Kalau pun mereka merasa benar maka nyawapun menjadi taruhannya. Dimana pun itu, Kultur seperti inilah yang susah untuk di hilangkan oleh orang Jeneponto. Sebab Sifat / karakter seperti ini lah yang kemudian di perlihatkan oleh Sosok I Makdi daeng Ri Makka.
I Makdi Gugur dan Aksi Heroik I Mulli Dalam Peperangan
Setelah kembali ke medan pertempuran ia semakin membabi buta, walaupun Talempang nya sudah di lepas, I Makdi tetap tidak bisa di bunuh ( Kebal). Dalam sejarah diriwayatkan bahwa I Makdi Tidak meninggal dalam keadaan terluka atau senjata yang membuat beliau gugur sebab tidak di kisahkan berapa jumlah tusukan dan sebelah mananya yang terluka akibat pedang atau pun benda tajam lainnya. melainkan dalam penuturan masyarakat 40 orang yang ia bunuh dalam keadaan berdiri, 20 orang orang di bunuh dalam keadaan duduk, dan 8 orang terbunuh dalam keadaan terkapar dan I Makdik daeng Ri Makka di nyatakan gugur dalam peperangan.
Mendengar berita tersebut I Mulli daeng Masayang pun menangis histeris dan membalas kematian I makdi daeng ri Makka. Pada akhirnya berangkatlah I Mulli daeng Masayang seorang diri menuju medan pertempuran dengan membawa Balira ( alat tenun) dan pedang I Makdik ia bawa.
Menurut penuturan masyarakat Mulli lah yang memukul mundur dan membunuh pasukan Karaeng Bonto Tangnga bersama dengan pasukan I Makdi yang tersisa. Konon katanya I mulli daeng Masayang lah yang membunuh Panglima perang nya Karaeng Bonto Tangnga. Di kisah pula beliau tidak gugur dalam peperangan tersebut, beliau gugur di karena kan menderita penyakit.
Sosok I Mulli Daeng Masayang
Orang bijak berkata bahwa " Di balik laki-laki yang sukses dan pemberani maka ada sosok perempuan yang selalu mendukung dan menguatkan langkah suaminya ". Hal ini pun kita bisa lihat dari perjalanan hidup sepasang kekasih I Makdik daeng Ri Makka dan I Mulli daeng Masayang.
Kalau kita telisik ke belakang sosok I mulli daeng Masayang bukan lah perempuan biasa, ia merupakan pendekar wanita dari keturunan raja Binamu ke 7 yaitu : I jakkolok daeng Rangka. Dia memiliki karakter yang sama dengan I Makdi daeng Ri Makka. Orang Jeneponto mengatakan " tidak ada pasangan yang cocok dengan I Mulli daeng Masayang adalah I Makdik daeng Ri Makka itu sendiri” .
kedekatan mereka berdua ternyata banyak yang tidak suka, konon ketika I Makdi lewat gadis-gadis masa itu semua mengintip dibalik jendela rumah-rumah mereka sambil berkata " Am maloi I Makdi " ( I Makdi sementara Lewat ).
--------------
--------------
Dari peristiwa tersebut kita bisa memetik kesimpulan bahwa " Pada dasarnya I Makdi di anggap melakukan hal yang tidak baik yang ternyata itu adalah Konspirasi yang dilakukan oleh Belanda untuk menjatuhkan I Makdik agar leluasa menguasai wilayah nantinya. Bahkan banyak orang yang tidak tahu bahwa duduk persoalan sehingga terjadi kekacauan besar di Binamu pada waktu itu adalah Konspirasi Belanda sebernarnya.
Artinya apa, artinya adalah jikalau I Makdi masi hidup maka akn menjadi ancaman besar tersendiri bagi Belanda khusus di bidang politik. Sebab, pastinya di saat ia nanti memerintah akan menjadi pekerjaan besar bagi Belanda dan pasti akan merasa kewalahan. Buktinya saja ia belum memerintah tapi sudah sangat berpengaruh sekali bagi kerajaan-kerajaan. Sehingganya kematian I Makdi sangat di inginkan oleh Belanda pada waktu itu.
Sisi lain ia pun memiliki hubungan emosional yang terbangun dengan Arung palakka pada saat itu. Bahkan sampai membangun hubungan ke raja- raja lainnya. Artinya relasi yang di miliki oleh I Makdi sangat luas. Sehingga hal itu pun di baca oleh Belanda.
Dari kisah diatas menurut para masyarakat bahwasanya seharusnya Sosok I Makdi daeng ri Makka adalah sosok pahlawan. Sebab beliau pun menjadi teladan, menjadi panutan kita bersikap dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang Jeneponto. Sebab, banyak sekali pelajaran-pelajaran yang bisa kita ambil dalam sejarah hidup dari sosok I Makdi daeng ri Makka.
Sebagai seorang calon Raja ia tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang berharga dan mesti di sombongkan akan tetapi, menurut nya ada yang lebih tinggi dari pada itu seperti persaudaraan, komitmen, integritas dan lain sebagainya. Ketika dia di fitnah, ia berusaha membersihkan namanya dengan caranya sendiri. Bahkan kisah- kisah atau kasus seperti I Makdi bisa saja terjadi saat sekarang ini, orang yang akan memangku jabatan bisa saja di fitnah melalui serangan sosial media, menggunakan Buzzer, Penybaran hoax dan semacam nya.
" Ketika kepentingan dan kekuasaan lebih besar dari akal sehat maka segala hal bisa di halalkan untuk mencapai tujuan " ( Manggalatung daeng pasolong)
" Jappo buku ta jappo pau-pau " ( sebuah tulang bisa kn hancur pada masanya, tetapi janji, ucapan buang sudah di lontarkan tidak akan sirna dan akan tetap di kenang). (Manggalatung daeng pasolong)
Referensi :
~ Mitologi Bumi Sulawesi ( Episode " Di balik Tragedi Makdik Daeng Ri Makka Sang Pewaris Tahta Kerajaan Binamu) " https://youtu.be/uauLAlfb150 "
~ JekaJoka Blog ( I Makdi daeng Ri Makka Sang Raja yang Tewas dalam peperangan)
~ Ichalblao ( Legenda Tu Ratea : I Makdi Daeng Ri Makka )
Penyunting Kata dan Tulisan : Rivaldi R Happy.
" Tarima Kasi' Banyak Daeng "
" Salam Budaya "
Komentar
Posting Komentar