Verbatim 2 Riset Dikili
04 februari 2022, hari ini saya memantapkan diri untuk melanjutkan penggalian data terkait riset Dikili yang berusaha saya garap. Di temani oleh ketua cabang PMII kota Gorontalo periode sekarang, yakni sahabat senior kak Ikhal. Akan tetapi, sebelumnya saya menghadiri undangan dari ketua komisariat Universitas Negeri Gorontalo terlebih dahulu, guna melakukan silaturahim ( soan ) kepada salah satu dosen yang ada di fakultas Hukum UNG dalam rangka pembahasan pembentukan Mabingkom ( Majelis Pembimbing Komisariat ). Ketika itu turut hadir juga sahabiyah Mita yantu selaku Ketua Kopri UNG dan Erga Nanda Papuntungan selaku ketua Rayon Sastra dan Budaya. Kerena memang pada dasarnya kami sudah janjian dan berkomitmen melakukan silaturahim ke setiap dosen-dosen alumni PMII yang ada di ruang lingkup UNG.
Sebelumya saya menghubungi Adit ( ketua Komsat UNG ) agar kiranya ia bisa menjemput saya di kos. Agar bisa barengan ke kampus, ia pun menjemput saya. Sebelum ke kampus kami singgah di tempat foto copy terlebih dahulu untuk menemani ketua Adit membuat surat pernyataan kesediaan ikut PKL ( Praktik Kuliah Lapangan ) di Manado. Sehabis itu kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju Fakultas Hukum UNG. Sembari menunggu sahabiyah Mita dan Erga kami diskusi ringan perihal arah dan gerakan PMII UNG kedepan-nya melalui kacamata kami masing - masing. Satu sisi Adit juga sibuk membuka Handphone-nya. Dengan perasaan kepo tingkat dewa, saya pun bertanya sama sahabat Adit dengan menggunakan dialeg Gorontalo.
Saya : “ kinapa Ngana ini, rupa sibuk sekali dang, sampai-sampai ngana tidak fokus berdiskusi dengan kita ” ?
Adit : “ Nyanda A , kita fokus cuman kita ada sementara hubungi teman angkatan kita ini, for ba kase masuk surat pernyataan ini, soalnya hari ini terakhir sup. ( dengan muka was-was ) ” .
Saya : “ oh iyya kalau begitu urus dulu itu, kage le tidak ta masuk, kong ngana tidak jadi berangkat lagi kan ”.
Setelah perbincangan singkat kami terhenti, ia pun segera mengurus berkasnya. tak selang beberapa waktu ia pun kembali dengan raut muka yang lega, dan kami pun melanjutkan diskusi kami. Di tengah-tengah diskusi kami berjalan handphone saya berbunyi, dan ternyata itu telepon dari sahabiyah Mita, mempertanyakan kami berada di bagian sebelah mana sebab ia pun telah berada di sekitaran Fakultas Hukum. Saya pun menemui-nya disebabkan saya telah melihatnya lebih dulu.
Sembari menunggu yang lain kami pun melanjutkan diskusi ringan kami dari berbagai macam pembahasan, mulai dari berbicara budaya, gerakan perempuan, ekologi, dan lain-lain yang tentunya di pandang dari sudut pandang masing-masing melalui sudut pandang PMII itu sendiri. Akan tetapi, sekian lama kami menunggu sahabat sahabiyah yang lain tak kunjung datang. Pada akhirnya, kami pun memutuskan untuk menghubungi dosen alumni PMII yang akan kami temui. Setelah dihubungi, kami semua terkejut mendengar pernyataan Adit atas balasan chat dosen tersebut yang katanya beliau tidak datang ke kampus. Erga dan Mita pun sontak bertanya secara bersamaan kepada Adit.
Erga dan Mita : “ memangnya Ngana tidak hubungi dari semalam ” ?
Adit : “ Nyanda a, soalnya ibu bilang di tunda besok saja, jadi kita so nda hubungin ulang ”.
Saya : “ harusnya ketua di hubungi ulang, supaya nda terjadi miskom seperti ini ”
Adit : “ kita lupa lagi a, oke kita minta maaf a ” .
Setelah perdebatan kecil itu berakhir, seketika juga penjual ice cream datang, sehingga-nya nuansa panas baik karena cahaya atau pun emosi dapat di redam dengan sebuah ice cream yang segar. Demi menebus rasa salah Adit, ia pun mentraktir kami Ice Cream. Tak selang beberapa lama saya pun menghubungi kak Ikal, untuk memberitahukan jikalau kami tidak jadi bertemu dengan dosen yang akan kami temui.
Tak selang beberapa kak Ikal pun datang di tempat kami. Sesampainya kak Ikal kami tidak langsung beranjak, kami masih duduk-duduk sejenak seraya kembali membuka ruang diskusi ringan bersama ketua komisariat dan ketua kopri dan rayon. Diskusi itu berawal di saat kak Ikal menanyakan kenapa sehingga tidak jadi ketemu sama dosennya. Sahabat Adit pun menjelaskannya, sama seperti apa yang ia jelaskan kepada kami. Dan kak Ikal pun memberikan arahan agar kedepannya harusnya di komfirmasi terlebih dahulu. Setelah itu kami pun langsung beranjak dari tempat masing-masing. Saya dan kak Ikal langsung menuju ke Kediaman KH. Rasyid Qamaru guna mempertanyakan sesuatu hal yang tentunya menjadi referensi riset saya, begitupun dengan kak Ikal. Sedangkan Adit kembali ke kosnya, sedangkan Mita dan Erga pun langsung menuju ke tempat kegiatan selanjutnya di salah satu desa yang berada di kec. Tapa.
Di tengah perjalanan, saya bertanya sama kak Ikal :
Saya : kak so hubungi pak kiyai ?
Kak Ikal : belum, kalau beliau nda biasa di hubungi langsung datang saja.
Saya : kenapa olo bisa begitu ? tidak apa-apa so itu kak ?
Kak Ikal : soalnya tidak ada dpe nomor, in sya Allah tidak apa-apa. Dan sebelum-sebelumnya kami juga begitu, dan pak kiyai menerima kai dengan baik.
Saya : baiklah.
Sekitar 10 menit perjalanan, kami pun sampai di kediaman pak Kiyai, sesampainya di sana kami melihat pintu gerbang dan rumahnya tertutup. Akan Tetapi, mobil operasional pak kiyai ada, dan kami berdua optimis bahwa pak kiyai berada di dalam. Mungkin karena suasana angin yang bertiup kadang kala kencang atau semacam-nya jadi rumah pak kiyai di tutup. Sehingganya kak Ikal pun meminta saya untuk mengetuk pintu rumah pak kiyai sembari mengucapkan salam sebanyak 3 kali saja, kalau tidak ada jawaban maka kembali. Akan tetapi, pada saat ketukan ke 2 salah seorang anak pak kiyai membuka pintu tersebut. Kami akhirnya memperkenalkan diri serta maksud dan tujuan kami serta menanyakan apakah pak kiyai ada atau tidak. Beliau pun berkata pak kiyai ada dan kami di persilahkan duduk dan menunggu pak kiyai.
Tak lama kemudian pak kiyai pun keluar dan menemui kami. Sembari tersenyum beliau menyapa kami terlebih dahulu, dan kami pun balas menyapa sembari mencium tangan pak kiyai guna mendapatkan barokah atau berkah ( Barakkak ).
Pak kiyai : assalamu alaikum, so lama uty ?
Kak Ikal dan saya : wa Alaikum salam, pak kiyai
Kak ikal : baru saja pak kiyai.
Pak kiyai : bagaimana kabar, baik ?
Kak Ikal dan saya : Alhamdulillah pak kiyai baik.
Setelah percakapan singkat itu, pak kiyai juga tak lupa menanyakan apa maksud dan tujuan kami mendatangi beliau, apakah ada sesuatu hal yang ingin di tanyakan atau bagaimana .
Pak kiyai : baru bagaimana uty, apa kah ada yang bisa saya bantu ?
Kak Ikal : oh iyya pak kiyai, jadi maksud dan tujuan kedatangan kami itu ada sesutau hal yang masing – masing ingin kami tanyakan, kalau saya sendiri perihal tradisi masuk rumah yang mesti menggantungkan sesisir bahkan beberapa sisir pisang pak kiyai, nah kalau dia sendiri ( sembari menunjuk saya) ingin mencari tahu tentang tradisi Dikili di kalangan masayarakat Gorontalo.
Pak kiyai : oh tradisi masuk rumah dan dikili ya? Baik kita mulai dari dikili atau masuk rumah dulu ?
Kak Ikal : kalau bisa pak kiyai tardisi masuk rumah dulu .
Pak kiyai : oh iya baiklah.
Pak kiyai pun mulai bercerita perihal tardisi masuk rumah yang kenapa mesti menggantung pisang di pintu masuk rumah, dan menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan yang di berikan oleh kak Ikal. Kurang lebih 38 menit pak kiyai membahas perihal tradisi rumah baru tersebut. Setelah itu kemudian beliau langsung meminta saya mendekat kepada pak kiyai dan bertanya apa yang ingin saya ketahui perihal tradisi dikili itu sendiri.
Saya pun berkata, saya ingin bertanya perihal sejarah kenapa kemudian dikili itu ada di Gorontalo, serta siapa yang menuliskan naskah dikili tersebut dan bagaimanan pandangan islam dalam budaya Dikili pada awal-awal dikili di gunakan. Pak kiyai pun mulai bercerita.
Sebelumnya saya pun sampai kan sama beliau bahwa sebelumnya saya pun sudah menghadap sama Ust. Alim Niode selaku budayawan Gorontalo. Beliau juga mempertanyakan sekarang ust. Alim Niode berada di mana, saya pun berkata kemarin saya bertemu di rumahnya pak kiyai, beliau pun bercerita perihal dikili.
Pak kiyai “ para orang tua kita dahulu, mereka tidak menceritakan dari mana dan siapa penyusun-nya dan tahun berapa di mulai. Alasan orang tua kita kalau di telusuri ada 2 hal yakni: 1. mereka ( orang tua dahulu ) tidak mau di kenal orang sehingga nama-Nya tidak muncul, dan 2. untuk menghilangkan rasa ketakabburan-nya meraka ( orang tua kita dahulu ). Contoh-nya Meraji, Meraji itu siapa penyusun-nya tidak diketahui dan mulai kapan di gunakan. Akan tetapi, memang ada sebagian besar masyarakat mengatakan bahwa Meraji itu di tulis oleh Sultan Amai, dengan alasan beliau naik menyiarkan agama islam dengan Meraji. Akan tetapi, itupun bukan menjadi standar ke ilmuan, karena dia membaca riwayat, dan pada akhirnya ia pun menyusun, dalam hal ini bisa saja bukan dia yang menyusun meraji tersebut. ”
Lanjut “ kemudian Dikili kalau kita lihat sebenarnya itu adalah bahasa Arab. Dzakara, Yadzkuru, Dzikra, ya Ayyuhallishina Amanu Yadzkurullah Dzikra, berdsikir berulang-ulang. Bahasa Gorontalo-nya Dikili. Orang Gorontalo itu banyak mengadopsi bahasa Arab. Dikili juga berbagai macam versi, ada dikili Barzanji, DB, Arwah, Burudah dan lain-lain. Yang berbeda ialah sebutan dan ciri khas-nya atau bacaan-nya. Akan tetapi berbeda lagi dengan lagu dan Qasidah.
Kalau lagu hanya sebagai pelipur lara saja, sedangkan Qasidah sendiri memiliki pesan makna yang bermanfaat di dalamya. Dikili juga itu begItu, kadang orang panen jagung, di sebuah gubuk mereka berdikili. Mereka berdikili dengan menggunakan bahasa Gorontalo, yang mereka salin dari bahasa Arab. Contoh : mau ludu mapidiki hulilio padahal itu Assalamu cuman harakotnya itu di atas 20 harakat, kalau hukum tajwid kan maksimal 6 tapi karena ada namanya tanwin taranum atau tanwin karena kepentingan bahasa. Jadi tidak lepas dari hukum tajwid, ada perpanjangan bunyi. ( aaaaaaaaa ), begitupun dengan Alaika , atau di bilang Asyura itu juga dikili ( Assalamu Alika Zainal Anbiyaaa, I Assalamu Alaika ) itupun juga dikili lagu-nya berbeda. ”
Lanjut “ Pertanyaan-nya Apakah boleh berdoa dengan lagu ?, jawaban-nya Adalah Sunnah bukan Bid’ah. Mendengar orang barzanji dikatakan Vokal Group. Rasulullah pernah berdoa menggunakan lagu dalam mesjid, dan itu hadist Shohih dari zaid bin tsabit. Beliau berkata : “ saya akan berdoa dengan menggunakan lagu (bersyair ) di dalam mesjid, karena saya mendengar Rasulullah berdoa dengan menggunakan lagu dalam mesjid. ”
Jadi dikili itu berbagai macam model, versi atau bentuk bahkan ada yang dalam bahasa Gorontalo. Bahkan terkadang di saat di bacakan dikili tersebut, ada yang sampai meneteskan air mata karena dia membaca menggunakan perasaan ( menghayati penuh makna di setiap syair yang di lantunkan ).
Setelah beliau bercerita perihal sejarah dan hukum bacaan Dikili, saya kembali bertanya kepada pak kiyai perihal, apa yang menjadi alasan sehingga pelaksanaan dikili di lakukan secara berteriak-teriak ?.
Pak Kiyai “ baiklah Dzikir ini menurut Imam Al Ghashali dalam kitab idiyatul mudin, Dzikir itu terbagi menjadi 4 macam. Ada Dzikir lisan, dzikir hati, dzikir rahasia, dan dzikir lisan dan hati ( di samping di ucapkan harus di akui dengan hati ). Itu bukan berteriak-teriak itu adalah doa yang di bahasakan dalam bahasa Gorontalo. Nah, yang unik dalam pelaksanaan Dikili ialah pelaksanaan yang cukup lama kadang pagi jam 9. Mengapa demikian ? apakah karena sedekah atau walima ? buka karena kecintaannya kepada Rasulullah.
Terakhir saya bertanya sama pak Kiyai perihal makna filosofis bangunan (bulita) yang berada di dalam masjid di saat pelaksanaan Dikili di lakukan.
Pak kiyai “ untuk merefleksikan kecintaan kita kepada Rasulullah, biasa ada tempat kalau kita bicara dikili panggung yang kayak rumah-rumah itu tempat kue ada yang di sebut Toyopo, telangga, atau walima. Walima itu bahasa Arab, walima itu hidangan. Ketika Rasulullah di lahirkan, kakek-nya ( Abdul Muthalib ) mengumpulkan tetangga-nya membuat jamuan. Bukan cuman itu, ketika Rasulullah lahir, langsung di bawa ke Hadjar Aswad dan berdoa disana. 360 patung berahala termasuk Latta, hubbal, manaf, runtuh dan jatuh dari tempat-nya. Lalu di kembalikan ulang ketempat-nya agar tidak ketahuan oleh orang Quraisy dan langsung sujud membaca Alhamdulillah, Allahu Akbar dan duduk seperti 2 rakaat dan mengangkat tangan mengusap mukanya dan membaca Alhamdulillahi Rabbil Alaamiin. Dari peristiwa tersebut menandakan bahwa itu bukti cinta kita kepada Rasulullah. ”
Sepanjang bercakapan saya dengan pak kiyai, terkadang pak kiyai bercerita dengan menggunakan bahasa Gorontalo, dan terkadang juga mempraktekkan bacaan dikili tersebut. Dan banyak menceritakan kisah-kisah yang berhubungan dengan Dikili tersebut. Saya merasa sangat senang sebab bisa menemui langsung beliau sebagai narasumber saya. Mengingat beliau merupakan salah satu ulama mahsyur yang ada di Gorontalo. Beliau juga merupakan seorang Qadhi kota Gorontalo, atau semacam penasehat ke Agama islam yang ada Gorontalo, kalau kak Ikhal bilang Qadhi itu semacam MUI nya Gorontalo. Kurang lebih begitu.
Pertanyaan tadi pun menutup percakapan saya dengan pak kiyai dan alhamdulillah menjadi tambahan referensi untuk penelitian saya. Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan sama pak kiyai akan tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 dan kami belum melaksanakan sholat Ashar sehingga saya pun berniat menyudahi wawancara saya kepada beliau dan takut menyita terlalu lama waktu beliau. Sebelum kami berpamitan beliau sempat berkata, jikalau masih butuh referensi atau masih ada yang ingin di tanyakan janganlah sungkam untuk datang. Kami pun berdua mengiyakan apa yang di katakan oleh pak kiyai.
Tulisan ini mulai di buat pada tanggal 08 Februari dan selesai padan tangga 09 Februari 2022.
Komentar
Posting Komentar