Pemuda Adalah Garda Terdepan Sebagai Pelestari Kebudayaan Setempat
Saya dilahirkan dari keluarga yang dibesarkan di daerah yang pada umummnya, sangatlah begitu menjungjung tinggi rasa Gotong royong sebagai simbol kerukunan, keharmonisan dan kekeluarga bagi masyarakat desa jombe. Ya desa jombe, itulah nama desa tempat saya dibesarkan, desa yang memiliki masyarakat yang ramah,ceria, dan pastinya pandai. Desaku ini juga sangat memiliki banyak kebudayaan yang unik-unik, Baik dari segi pernikahan, acara kematian, dan masih banyak lagi.
Ada banyak hal yang unik dari desaku ini, dan saya merasa senang sekali bisa di besarkan di tengah masyarakat yang menjungjung tinggi rasa gotong royong dan kerja sama seperti ini. Awalnya banyak sekali budaya yang sempat dilestarikan didesaku ini.
Ya, walaupun pada akhirnya banyak budaya yang tengah hilang dan tak terjaga lagi . Ini mungkin di karenakan perkembangan zaman yang sangat pesat, dan mungkin juga tidak ada lagi yang ingin melestariknnya. Akan tetapi itu bukanlah alasan ku untuk tidak ingin mengabdi terhadap desa ku kelak. Bahkan ini menjadi tantangan saya sebagai pemuda yang telah dibesarkan di desa kecil nan indah ini.
Tidak usahlah saya jelaskan secara mendetail lagi dan sesignifikan mungkin budaya-budaya apa saja yang telah hilang dan budaya semacam apa saja yang masih bisa bertahan sampai sekarang ini. Dan saya berharap para pembaca yang budiman khusunya para pemuda/i yang sempat membaca ini, janganlah terfokus pada gadgetmu yang membodohimu itu. Marilah bersama-sama kita merapatkan barisan sebagai para penggerak bangsa untuk sama-sama mempertahankan budaya warisan nenek moyang kita yang sifatnya postif dan tak menyimpang dari Agama kita masing-masing. Sebab itu sudah menjadi tugas kita. Sebab pada dasarnya kita semua adalah garda terdepan yang harusnya melestariakan budaya nenek moyang kita.
Saya pun tak tahu apa sebenarnya yang membuat kita para anak muda yang katanya penerus bangsa, penggerak agama, akan tetapi tak ingin turut ambil andil dalam mempertahanka budaya nya sendiri. Apakah mungkin itu adalah hal yang kuno ya, tidak modern, tak gaul. Sehingga ngak nyentrik rasa jikalau seorang pemuda berbaur dalam hal seperti itu. Bahkan mungkin juga ada yang berkata kita kan buka sastrawan yang mesti mempertahankan itu semua.
Hei kawan ingat bung karno pernah berkata “sediakan saya 10 pemuda maka aku guncangkan dunia”. Itu artinya kita memiliki peran penting dalam hal menjaga bangsa kita yang telah dititipkan oleh leluhur kita. Bukan kah menjaga budaya dan melestarikan budaya sama halnya kita sudah menjaga bangsa ini?.
Bahkan beberapa hari lalu saya melihat postingan teman ku di sosial medianya, disitu saya melihat ada beberapa anak muda yang tengah duduk bersama sambil memainkan gadget mereka masing-masing.
Mungki para pembaca yang budiman sudah tahu apa yang mereka lakukan, ya apalagi jikalau posisi tetrisnya sudah dalam posisi yang miring, ah sudahla pasti teman-teman sudah khatam dengan pemuda yang sudah ngumpul dengan keadaan hp miring.
Saya nda berfokus pada para pemuda itu, akan tetapi saya hanya berfokus pada captionnya yang bertulisakan “ Memanfaatkan Teknologi atau di Manfaatkan Teknologi”, ya kurang lebih begitu. Dari situlah saya berfikir betul juga seakan-kita tertipu dengan kata memanfaatkan dan dimanfaatkan. Terkadang kita berakata dan beranggapan bahwa saya memanfaatkan teknologi , tapi nyata nya kita yang dimanfaatkan.
Mungkin dengan tulisan ini, setidaknya kita semua sadar bahwasanya kita memiliki peran penting dalam hal melesterakan kebudayaan kita ini. Ingat yah, kita ini adalah garda terdepan, bukan lagi sekelompok orang yang hanya bisa menikmati saja, sudah cukup kita sebagai penikmat budaya, saatnya menjadi pelaku utama dalam melestarikan budaya kita bersama.
Komentar
Posting Komentar