kini ku panggil kau dengan Kartini ku
Berangkat dari kehidupan sebagai seorang putri bangsawan yang penuh beragam aturan kaku. Semua keadaan ini mengharuskan Kartini untuk melawan agar bisa bebas dari aturan-aturan yang menekannya.
Secara perlahan Ia meningkatkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan melalui pendidikan, sehingga Ia berinisiatif untuk mendirikan sekolah perempuan. Tak hanya itu, Ia juga pernah membentuk suatu gerakan untuk kebebasan dan pengembangan penuh bagi perempuan.
Mengapa ini harus Ia lakukan? Sebab kaum perempuan harus memiliki pemikiran yang cerdas dan cara pandang yang luas, sehingga bisa mencapai kesetaraan dengan kaum Pria.
"Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya. (R.A. Kartini)" begirulah ucapan R.A Kartini. Melalui surat-surat yang ia tulis, membuat orang-orang mengetahui apa yang di cita-citakan Kartini. Ia ingin membawa perubahan bagi kehidupan perempuan, sehingga sekarang pemikirannya dikenal dengan istilah emansipasi Wanita.
Emansipasi Wanita tidak semata-mata berfokus pada kesetaraan antaraan wanita dan pria, demi mendapatkan kesempatan yang sama dalam beragam bidang. Makna sebenarnya dari emansipasi wanita yaitu bagaimana wanita dapat berkembang dan maju dari waktu ke waktu tanpa menghilangkan jati dirinya.
Pagi ini saya sempat membaca salah satu postingan di sosial media yang berituliskan, "Di saat sekarang ini banyak wanita yang sangat mengidolakan sosok Raden Ajeng Kartini, yang katanya siap meneruskan tongkat estafet perjuangan dari para pejuang wanita salah satu nya Raden Ajeng Kartini."
Menurut saya, ungkapan seperti ini adalah hal yang wajar dan hukumnya Fardhu Ain, sebab bung Karno pernah berkata Kaum Muda adalah serentetan/sekelompok orang yang siap menjadi estafet demi kejayaan bangsa, mungkin kurang lebih seperti itu.
Tak hanya itu, lanjutan ungkapan berbunyi, "sayangnya saat ini banyak kaum perempuan jika di beri tugas kampus untuk menulis resume saja sudah mengeluh, apa lagi jika disuruh menulis atau membca sebuah sejarah. Jika semua didasari malas, lalu Kartini mana yang mereka banggakan dan idolakan". Mungkin kurang lebih begtu.
Itulah bedanya pemuda zaman dahulu dengan zaman sekarang. Kita hanya bisa senang sebagai penikmat saja dan tidak siap untuk menjadi pelaku sejarah. Artinya spirit pemuda dulu dengan pemuda saat ini jauh berbeda, dan spirit pemuda saat ini perlahan mulai menghilang di tubuh generasi muda (perempuan).
Sudah saatnya kita (pemuda, pelajar mahasiswa dan semacamnya) menjadi Aktor, dan menjadi agen di setiap peristiwa. Besar atau kecil peran yang kita ambil bukanlah ukuran atau tupoksinya, yang jelas kita memiliki spirit dan berani mengambil peran tersebut.
#SelamatHariKartini
Penulis : Fajar Muharram
Editor : Roodney Neu
Komentar
Posting Komentar