Menyoal permasalahan Anak muda saat ini "Anak muda dan Degradasi nya (APA?) dalam kehidupan".

Berbicara mengenai anak muda pastinya kita tidak akan lepas dengan banyak paradigma, sudut pandang dan semacamnya. Ada yang bilang anak muda itu adalah tempatnya orang-orang yang nakal, hedon, malas, manja, kreatif, pekerja keras, dan masih banyak lagi STEREOTYPE yang di alamatkan kepada mereka. Presiden RI pertama pernah mengungkapkan bahwa anak muda merupakan penerus generasi masa depan bangsa. Salah seorang conten creator makassar yang kerap di sapa kakak Rijal (Rijal Djamal), MENGATAKAN jikalau ingin merusak bangsa Indonesia hanya satu caranya, yakni serang lah, rusak lah anak-anak mudanya. 

Pandangan lain misalnya Rhoma Irama yang mengatakan bahwa pemuda adalah sekelompok orang yang identik dengan masa yang penuh semangat ( berapi-api), Sementara menurut Koentjaraningrat (1997), pemuda adalah suatu fase yang berada dalam siklus kehidupan manusia, dimana fase tersebut bisa kearah perkembangan atau perubahan. Sama halnya dengan pandangan Taufik Abdullah (1974), Bahwa pemuda adalah generasi baru dalam sebuah komunitas masyarakat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Apapun itu, dan siapa pun yang mendefinisikan arti dari pemuda, bagi saya pemuda adalah segelintir orang yang bersifat kreatif, spirit yang besar, dan mampu melakukan gerakan dan identik dengan perubahan. 

 Hal ini pun selaras dengan ungkapan bung Karno bahwa untuk mengguncangkan dunia tidak usah saya mengumpulkan ratusan bahkan ribuan pemuda akan tetapi cukup dengan 10 pemuda saja. 

Dari diskusi sekolah riset yang saya ikuti kemarin, banyak membawakan materi terkait anak muda, salah satu materi yang dibahas mengenai "Anak Muda dalam Kajian budaya". Pada sesi diskusi tersebut pemantik (kirik Ertanto) mengatakan bahwa pemuda sendiri memiliki banyak tanggung jawab dalam kehidupan sosial nya, akan tetapi tak luput dari tanggung jawab orang tua. 

Dari beberapa persepsi diatas,saya memandang bahwa pemuda itu memang sangat memiliki peran penting dalam pembangunan bangsa di satu sisi, dan di sisi lain mengalami degredasi. Dari Sisi apa dulu????. Mari tengok bagaimana generasi Baby Boomers (1946-1964), generasi X (1965-1979), generasi Y (1980- akhir 1990an), generasi Z (1990-2010), dan generasi Alfa (2010- sampai sekarang) . Saya memandang dari masa ke masa anak muda kita mengalami perubahan baik dari sisi bersikap, belajar, dan lain sebagainya. Mengapa pemuda saat ini terjebak pada SITUASI baru. 

Ada beberapa permasalahan yang terjadi pada anak muda saat ini, salah satunya adalah melupakan tanggung jawabnya sebagai "Guardan of Value" atau penjaga nilai-nilai kebaikan yang ada di masyarakat seperti kejujuran, empati, gotong royong, keadilan, integrasi dan sebagainya. 

Pada dasarnya setiap masa pasti ada orangnya, dan setiap orang pasti ada masanya, dan pastinya setiap zaman berbeda cara merespon permasalahan yang berkembang saat ini. Nah agar tidak terjadi degradasi yang cukup meluas dan terus menerus, maka anak muda perlu di berikan ruang bebas untuk berekspektasi atau berekspresi  dalam menyikapi perkembangan zaman saat ini. Sebab saya yakin dan percaya jikalau pemuda di berikan kebebasan tersendiri dalam hal mengelola atau merespon perkembangan zaman dengan gaya mereka sendiri, pasti akan mudah untuk di atasi. Sebab untuk menangani perkembangan/permasalahan yang terjadi saat ini, harus di tangani oleh penduduk aslinya (Yang lahir pada zaman itu). 

Ada banyak hal yang menjadi faktor penyebab sehingga terjadi degradasi dari para anak muda, (Sikap, berpikir hingga sampai melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda). Sehingga hal ini menarik untuk di eksplorasi ataupun di diskusikan bersama. Perlu penulis ingatkan bahwa pada tulisan kali ini berangkat dari keresahan sendiri melihat anak muda di desa ataupun ruang lingkupnya sendiri. Jadi saya tidak tahu apakah permasalahan yang penulis utarakan ini sama dengan asumsi sahabat pembaca ataupun ada asumsi yang lain. Oke baik saya mencoba memberikan beberapa permasalahan perihal apa yang menjadi penyebab sehingga terjadi persoalan-persoalan tersebut. 

1. Anak Muda Gengsi duduk bersama kelompok-kelompok Tua

Faktor pertama ialah anak muda saat ini, kebanyakan anak muda dan pemuda tidak mau duduk bersama dengan para orang tua. Banyak anak muda yang berasumsi bahwa duduk bersama dengan kelompok orang tua adalah hal yang kuno. Bahkan ada juga anak muda yang mengatakan bahwa di saat duduk dengan mereka, kita tidak mendapat apa-apa kecuali duduk diam mendengarkan cerita khayalan atau pun kisah-kisah yang tidak masuk akal yang memang bernuansa kuno. Bahkan di saat duduk dengan mereka kita sama saja Membuang- buang waktu. 

Asumsi-asumsi seperti inilah yang membuat anak muda sekarang sangat lemah dalam berbicara perihal narasi kebudayaan nya sendiri. Mereka tidak sadar bahwasanya untuk menggali suatu informasi ataupun narasi perihal histori (sejarah), adat istiadat, bahkan permasalahan sosial yang berkembang dari tahun ke tahun, ya salah satunya duduk dengan orang-orang tua dengan cara mendengar cerita ataupun kisah-kisah yang mereka alami ataupun mereka ketahui turun temurun dari nenek moyang kita agar kita pun bisa mengetahuinya. 
Anak muda saat ini menganggap bahwa nongkrong dengan sesama usia ataupun kelompok yang setara lebih Mengenakkan dan menguntungkan serta memiliki ke sesuaian yang sama, berbeda halnya saat duduk bersama dengan kelompok-kelompok tua. Padahal tidak selamanya demikian.

 Nah ini yang menjadi permasalahan pertama anak muda saat ini, yang saya rasa perlu untuk di rubah. Asumsi-asumsi seperti ini harusnya tidak boleh timbul bahkan menjadi sebuah paradigma baru yang mengakar bagi anak muda kita saat ini, yang pastinya akan berdampak sangat besar sekali. 

2. Bergantung terhadap Media sosial 

Persoalan kedua ialah terkait dengan Media Sosial (MEDSOS). Kita ketahui bersama bahwa saat ini kita semua berada Di Era industri 4.0 menuju 5.0 (Katanya). Dimana pada era Itu, kebanyakan semua umat manusia bergantung pada perkembangan Teknologi/media sosial (internet, WA, Facebook, dan lain sebagainya). Bukan hanya orang tua saja yang nyaman menggunakan media sosial tersebut, akan tetapi kalangan anak muda bahkan sampai anak usia sekelas 2 SD pun sudah menjadikan Media Sosial sebagai Kitab Suci. 

Satu sisi kita perlu untuk berusaha bermain di era seperti ini, sebab tuntutan zaman. Apalagi di era pandemic covid-19 seperti sekarang ini, hampir semua aktivitas di alihkan ke dalam jaringan ( Daring). Bekerja dari rumah, belajar, bahkan sampai kegiatan keagamaan pun terkadang di alihkan dalam bentuk virtual ( sama halnya kegiatan Doa bersama yang di adakan oleh PBNU akhir-akhir ini). Memang benar segala sesuatu yang berbaur dengan virtual dapat memberikan kelancaran dan kemudahan terhadap semua kegiatan yang kita lakukan. Semua Tinggal klik pekerjaan pun beres. 

Akan tetapi di sisi lain, kondisi ini memberikan dampak negatif yang cukup parah bagi kehidupan sehari-hari. Salah satunya sikap anak muda yang saat ini bisa di katakan bergantung pada media sosial. Apa-apa internet, cari ini itu tidak usah repot, tenang ada medsos. Sisi lain pemuda juga tidak mau berusaha untuk membaca atau mencari dan menggali informasi dari literatur-literatur yang ada. Padahal, seharusnya pemuda kita semestinya harus mampu menyeimbangkan kehidupannya secara digitalisasi dan non digitalisasi. 

Mungkin itu dia persoalan utama mengenai degradasi yang terjadi pada anak muda saat ini, yang kemudian menimbulkan persoalan persoalan serius yang perlu di kaji secara mendalam lagi, salah satunya berbicara tentang narasi kebudayaan yang kurang bagi anak-anak muda saat ini. 

Adapun solusi yang dapat penulis tawarkan untuk perlahan menangkal kemunduran yang terjadi saat ini yang juga merupakan problem besar bagi anak muda adalah pertama mencoba membuka ruang diskusi antar anak muda dengan para kelompok-kelompok orang tua sebagai pembagi literatur-literatur bagi kita anak muda, dan yang kedua jangan terlalu bergantung pada media sosial. Sedikit-sedikit sosial media, ini itu sosial media. 
Kalau semua ingin serba instan buat apa kita harus mau menerima tanggung jawab dan harapan yang sangat besar sebagai penerus masa depan bangsa?. Yang perlu kita ingat bersama adalah segala sesuatu yang sifatnya berat dan penuh tanggung jawab besar tidak lah lahir dan kita tempuh dari proses yang biasa-biasa saja, dalam artian semua butuh proses yang cukup panjang dan perjuangan serta pengorbanan yang amat besar. 

Oke saya kira cukup sampai di sini dulu hasil kerja otak dan jemari saya yang sok membahas anak muda itu sendiri, jikalau ada asumsi yang berbeda dan keliru mohon arahannya. Saya hanya sekadar mengisi waktu luang dan menghibur diri saya dengan Asumsi-asumsi sederhana ini.  

Saya kira cukuplah coretan singkat perihal anak muda kita saat ini, jikalau ada Pandangan yg tidak sesuai dengan pandangan sahabat sekalian mohon di maaf kan, sebab coretan di atas murni dari kaca mata dan hasil kelolaan dari pada otak saya yang masih dalam proses di encerkan untuk membaca situasi anak pemuda saat ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Torang Bekeng Bae’” Bukan Sekadar Slogan: Kritik atas Pembatasan Keterlibatan Kaum Waria dalam Perayaan Kemerdekaan

Grand Line Pendidikan: Menemukan ‘One Piece’ dalam Dunia Belajar"

I Makdi Daeng Ri Makka: Sosok Calon Raja Yang Terlupakan