PMII DAN Gerakan Merawat Tradisi lokal


Berbicara tentang tradisi lokal maka kita pasti sudah cukup tahu bahwa terdapat nilai yang harus di amalkan dan dirawat oleh genrasi muda. Mengapa demikian, sebab tradisi lokal merupakan warisan  budaya dan juga merupakan bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Budaya sendiri biasanya sering kali kita dengar segala sesuatu yang berhubungan dengan peninggalan dari nenek moyang kita, yang dimana bisa saja bersifat sakral dan ataupun berbentuk biasa saja namun, memiliki value yang sangat berharga sehingga perlu di lestarikan.

 Sering kali budaya juga merupaka hal yang berhubungan langsung dengan kehidupan warga sehari-hari. Biasanya juga budaya ada yang bersifat keagamaan, permainan, dan lain sebagainya. Contohnya budaya Dikili pada momentum isra’dan mi’raj yang ada di wilayah Gorontalo.

Dikili sendiri awalnya berasal dari kata Dzikir, karena masyarakat Gorontalo dulu yang susah dalam menyebutkan kata R dan S maka yang kata Dzikir di ganti dengan kata Dikili. Dikili sendiri merupakan suatu kebiasaan masyarakat Gorontalo yang dilakukan saat momentum isra mi’raj. Pelaksanaan Dikili juga memiliki ciri khas tersendiri yakni pelaksanaanya yang di lakukan dengan cara berteriak-teriak. 

Mengapa demikian?, menurut penuturan ust. Alim Niode yang juga merupakan budayawan Gorontalo , hal demikian terjadi karena pada dasarnya gorontalo dahulu merupakan wilayah lautan yang cukup luas, serta permukiman warga masih sangat sedikit sehingganya untuk memaggil atau pun menyapa warga yang lain harus di lakukan dengan cara berteriak-teriak. Oleh karena itu, kebiasaan ini lah yang kemudian menjadi turun temurun hingga pada palaksanaan dikili. 

Dikili sendiri jika kita pandang dari segi sejarah kemunculannya, ada yang menuturkan telah muncul sebulum dan setelah sultan Amai berada di Gorontalo. Sama halnya dengan apa yang di sampaikan oleh KH. Rasyid Qamaru yang juga merupakan seorang Qodi Kota Gorontalo, beliau menuturkan bahwa pada dasarnya jika kita ingin melihat kapan kemunculan atau pertama kali Dikili,  memang ada yang mengatakan bahwa sudah ada sejak Sultan Amai berada di Gorontalo. Akan tetapi sepengetahuan beliau tidak letratur yang menyebutkan hal tersebut, sehingga bisa saja dikili ini sudah muncul jauh sebelum Sultan Amai ada, akan tetapi di sempurnakan dan rapikan oleh Sultan Amani di saat ia pertama kali berada Di Gorontalo. 

Berebeda dengan penuturan dari Ust. Alim Niode bahwa-sanya budaya Dikili ini pertama kali muncul sejak masa sultan Amai menjadi Raja di Gorontalo waktu itu. Hal ini di perkuat sebab islam pertama kali masuk di gorontalo, pada masa kepemimpinan Raja Amai pada kala itu. Hal ini lah menjadi pondasi kuat beliau bahwa awal mula pertama kali Dikili di musyawarah untuk  menjadi bagian dari budaya Gorontalo yang bernuansa keagamaan. 

Terlepas dari keduanya, budaya Dikili merupakan budaya yang harus di lestarikan hingga saat ini. Sebab pada dasarnya Dikili merupakan warisan budaya yang ditinggalkan nenek moyang dan hanya terdapat di Gorontalo saja. Satu sisi jika kita melihat pada saat sekarang ini, budaya Dikili perlahan mengalami ketidaktertarikan ( kemunduran ) yang sangat signifikan bagi kalangan pemuda atau generasi muda. 

Hal ini pun menjadi suatu problem tersendiri bagi masyarakat Gorontalo. Sebab kita tahu bahwa pelaku dikili pada dasarnya di penuhi oleh para kelompok orang tua yang masih cinta dan peduli terhadap warisan budaya-nya yang di tinggalkan oleh nenek moyang mereka. Lalu di manakah peran  pemuda saat ini ?. Padahal kita  semua sepakat dan sadar bahwa generasi muda merupakan penerus masa depan bangsa, termasuk dalam hal melestarikan budaya yang di tinggalkan oleh nenek moyang kita selaku penerus tongkat estafet bangsa. 

Melalui hal inilah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia memiliki peran penting dalam mengawal hal-hal seperti ini. Kita sadar bersama bahwa kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia memiliki ruang yang sangat besar dalam mengawal seperti ini. Artinya kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia perlu melakukan terobosan-terobosan terbaru untuk menangani problem  tersebut. Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia harus peka terhadap perkembangan dan kemunduran yang terjadi pada budaya yang berada di setiap wilayah, khususnya Gorontalo itu sendiri. 

Yang menjadi permasalahan mengapa banyak generasi muda yang tidak tertarik pada budaya Dikili adalah: 

1. Generasi muda tidak tahu menahu asal usul dikili itu seperti apa dan pemamahaman mereka tentang Dikili sangat minim 

2. Pelaksanaan Dikili yang tidak modern atau terbilang kuno dimata anak muda 

3. Ke unikan melantunkan Dikili menjadi hal yang aneh bagi anak muda. 

Mungkin itu 3 landasan utama mengapa Dikili menjadi hal yang sangat tidak di minati oleh para generasi muda. Sehingga PMII harus mampu memediasi dan menyelesaikan permasalahan ini, agar budaya kita tetap terjaga dan bisa kita lestarikan bersama hingga sampai anak cucu kita.

Dari 3 problem tersebut dapat kita simpulkan bahwa untuk mengatasi problem tersebut PMII harus mampu memediasi dengan cara menambal ketidaktahuan pemuda terkait dengan Dikili sendiri, seperti membuat forum kajian atau seminar dan lain sebagainya yang bertujuan untuk memberikan edukasi terkait Dikili. Kedua PMII harus mencoba mengusulkan metode pelaksanaan Dikili yang tentunya tidak melupakan nilai yang terkandung di dalmnya dan pastinya dapat sinkron dan dapat membuat anak muda tertarik. Intinya PMII dengan gerakan militansi yang ada di dalamnya harus mampu melestarikan budaya dengan gaya-gaya PMII iti sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Torang Bekeng Bae’” Bukan Sekadar Slogan: Kritik atas Pembatasan Keterlibatan Kaum Waria dalam Perayaan Kemerdekaan

Grand Line Pendidikan: Menemukan ‘One Piece’ dalam Dunia Belajar"

I Makdi Daeng Ri Makka: Sosok Calon Raja Yang Terlupakan